Anggaran Piala Dunia 2026 Dipotong Lebih dari 100 Juta Dolar, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Tinta Berita – Keputusan mengejutkan datang dari FIFA menjelang persiapan Piala Dunia 2026. Organisasi sepak bola dunia tersebut dilaporkan memangkas anggaran operasional turnamen lebih dari 100 juta dolar AS. Kebijakan efisiensi ini mulai berdampak pada berbagai aspek persiapan turnamen yang akan berlangsung di kawasan Amerika Utara.
Instruksi penghematan tersebut disebut berasal langsung dari kantor pusat FIFA di Swiss yang kemudian diteruskan kepada kantor operasional di Miami, Amerika Serikat. Setelah arahan itu diterima, beberapa departemen diminta menekan pengeluaran agar kondisi keuangan organisasi tetap stabil.
Keputusan ini memicu perhatian publik karena sebelumnya Presiden FIFA Gianni Infantino sempat menyatakan bahwa Piala Dunia 2026 berpotensi menghasilkan pendapatan hingga 11 miliar dolar AS. Meski demikian, kebijakan efisiensi tetap diterapkan, bahkan pada sektor yang memiliki peran penting dalam operasional turnamen.
Akibatnya, sejumlah pihak mulai mempertanyakan kesiapan FIFA dalam menyelenggarakan ajang sepak bola terbesar di dunia tersebut.
Pemangkasan Anggaran Menyentuh Sektor Penting
Pemotongan anggaran yang nilainya mencapai lebih dari Rp1,6 triliun ini memengaruhi berbagai sektor penting dalam persiapan Piala Dunia 2026. Beberapa bidang yang terdampak antara lain keamanan, transportasi, serta aksesibilitas bagi para suporter yang akan datang dari berbagai negara.
Langkah efisiensi ini dianggap cukup sensitif karena sektor-sektor tersebut merupakan bagian penting dari kelancaran penyelenggaraan turnamen internasional. Tanpa persiapan yang matang, risiko gangguan operasional dapat meningkat.
Meski demikian, pihak FIFA menegaskan bahwa evaluasi anggaran merupakan proses yang biasa dilakukan sebelum turnamen besar digelar. Organisasi tersebut menilai langkah efisiensi diperlukan agar penggunaan dana dapat lebih terkontrol.
Baca Juga : Benarkah Tidur Lagi Setelah Sahur Bisa Merusak Otak? Ini Penjelasan Dokter
Juru bicara FIFA juga menjelaskan bahwa peninjauan anggaran bertujuan untuk memastikan biaya operasional tetap terkendali. Selain itu, penghematan juga memungkinkan organisasi mengalokasikan lebih banyak dana untuk program pengembangan sepak bola global.
Kota Tuan Rumah Menghadapi Beban Tambahan
Di sisi lain, kebijakan penghematan dari FIFA justru menimbulkan tekanan bagi kota-kota tuan rumah yang akan menjadi lokasi pertandingan. Sejumlah pemerintah daerah di Amerika Serikat mulai menyampaikan kekhawatiran mengenai tingginya biaya yang harus mereka tanggung.
Berdasarkan kesepakatan awal, FIFA memegang kendali penuh atas berbagai sumber pendapatan utama. Pendapatan tersebut mencakup penjualan tiket, hak siar televisi, serta fasilitas parkir stadion.
Sementara itu, pemerintah lokal memiliki tanggung jawab untuk menjamin keamanan para pengunjung selama turnamen berlangsung. Biaya tersebut sebagian besar berasal dari anggaran pajak publik.
Ketegangan muncul ketika FIFA menegaskan bahwa tanggung jawab keamanan mereka hanya berlaku di dalam area stadion. Artinya, keamanan di luar perimeter stadion sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah.
Kondisi ini memicu kekhawatiran terkait kesiapan logistik, terutama ketika jutaan penggemar diperkirakan akan memadati kota-kota tuan rumah selama turnamen berlangsung.
Ketidakpastian Dana Federal Memperumit Situasi
Permasalahan semakin kompleks karena dukungan dana dari pemerintah federal Amerika Serikat belum sepenuhnya jelas. Beberapa kota masih berusaha mencari tambahan anggaran untuk memenuhi kebutuhan keamanan selama turnamen.
Salah satu contoh datang dari kota Boston, yang masih melakukan berbagai upaya untuk menutup kekurangan dana operasional. Pemerintah kota harus memastikan sistem keamanan tetap berjalan optimal meskipun dukungan finansial belum sepenuhnya tersedia.
Situasi ini menunjukkan bahwa penyelenggaraan Piala Dunia tidak hanya bergantung pada organisasi olahraga, tetapi juga memerlukan koordinasi besar antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
Jika tidak dikelola dengan baik, tantangan logistik tersebut berpotensi memengaruhi pengalaman para penggemar yang datang dari seluruh dunia.
Harga Tiket Diprediksi Jadi yang Termahal Sepanjang Sejarah
Di tengah kebijakan penghematan tersebut, para penggemar sepak bola justru menghadapi tantangan lain, yaitu harga tiket yang sangat tinggi. Piala Dunia 2026 diperkirakan akan menjadi salah satu turnamen dengan harga tiket paling mahal dalam sejarah kompetisi tersebut.
Untuk pertandingan fase grup, harga tiket standar diperkirakan mencapai sekitar 700 dolar AS atau sekitar Rp11 juta. Sementara itu, tiket kategori bawah untuk pertandingan final bahkan diprediksi dapat mencapai Rp140 juta.
Selain harga tiket, keluhan juga muncul terkait biaya fasilitas pendukung seperti parkir stadion. Di area MetLife Stadium, tarif parkir dilaporkan dapat mencapai 225 dolar AS, bahkan berlaku juga bagi penyandang disabilitas.
Kebijakan dynamic pricing yang diterapkan FIFA turut memicu kritik dari berbagai pihak. Banyak pengamat menilai organisasi tersebut terlalu agresif dalam memaksimalkan keuntungan dari pasar sepak bola di Amerika Utara.
Situasi ini membuat sebagian penggemar khawatir bahwa Piala Dunia 2026 akan menjadi turnamen yang semakin sulit diakses oleh publik umum.


