<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>AsapKarhutla Archives - Tinta Berita</title>
	<atom:link href="https://tintaberita.com/tag/asapkarhutla/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://tintaberita.com/tag/asapkarhutla/</link>
	<description>Dunia Bergerak, Kami Mengabarkan</description>
	<lastBuildDate>Sun, 08 Nov 2026 11:59:38 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.4</generator>

<image>
	<url>https://tintaberita.com/wp-content/uploads/2025/11/cropped-tintaberita.com_-32x32.png</url>
	<title>AsapKarhutla Archives - Tinta Berita</title>
	<link>https://tintaberita.com/tag/asapkarhutla/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Asap Karhutla Jadi Sorotan, Kasus ISPA pada Balita Tembus 95.000</title>
		<link>https://tintaberita.com/kesehatan/kasus-ispa-balita-karhutla/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Adhitama Fazwan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 08 Nov 2026 11:59:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[AsapKarhutla]]></category>
		<category><![CDATA[ISPA]]></category>
		<category><![CDATA[Karhutla]]></category>
		<category><![CDATA[Kemenkes]]></category>
		<category><![CDATA[KesehatanBalita]]></category>
		<category><![CDATA[KualitasUdara]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tintaberita.com/?p=1539</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tinta Berita &#8211; Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 95.627 kasus ISPA pada balita di tujuh provinsi terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Angka itu mencakup sekitar 22,5 persen dari 425.167 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang masuk dalam rekap. Data tersebut berlaku hingga 5 November 2026 pukul 17.00 WIB. Dalam rincian kelompok yang disorot, anak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tintaberita.com/kesehatan/kasus-ispa-balita-karhutla/">Asap Karhutla Jadi Sorotan, Kasus ISPA pada Balita Tembus 95.000</a> appeared first on <a href="https://tintaberita.com">Tinta Berita</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong><em><span style="text-decoration: underline;"><a href="/">Tinta Berita</a></span></em></strong> &#8211; Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 95.627 kasus ISPA pada balita di tujuh provinsi terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Angka itu mencakup sekitar 22,5 persen dari 425.167 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang masuk dalam rekap. Data tersebut berlaku hingga 5 November 2026 pukul 17.00 WIB. Dalam rincian kelompok yang disorot, anak usia 0–5 tahun memiliki jumlah kasus tertinggi. Meski demikian, rekap tersebut menghitung kasus ISPA di wilayah terdampak. Data itu tidak merinci penyebab setiap kasus. Karena itu, angka 95.627 menunjukkan besarnya beban kasus pada kelompok usia dini di tengah persoalan kualitas udara yang masih menjadi perhatian.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kasus ISPA pada Balita Bertambah Sejak Akhir September</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Pada akhir September 2026, jumlah kasus ISPA pada balita dalam rekap masih sekitar 40.000. Kemudian, angkanya mencapai sekitar 62.000 pada pertengahan Oktober dan sekitar 69.000 pada 18 Oktober. Hingga 5 November, totalnya mencapai 95.627 kasus. Jika membandingkan awal dan akhir periode tersebut, jumlah kumulatif bertambah sekitar 55.600 kasus dalam waktu lebih dari sebulan. Angka awal merupakan pembulatan, sehingga selisihnya juga berupa perkiraan. Selain itu, pertambahan total selama sebulan belum menggambarkan seberapa cepat kasus baru muncul setiap hari. Untuk memahami kecepatannya, pembaca perlu melihat jumlah kasus baru pada periode yang sebanding, misalnya dari satu minggu ke minggu berikutnya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Anak Usia Sekolah dan Lansia Juga Mencatat Banyak Kasus</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Selain balita, Kemenkes mencatat 88.391 kasus ISPA pada anak usia 6–9 tahun. Sementara itu, kelompok lansia berusia lebih dari 60 tahun mencatat 56.462 kasus. Rekap tersebut juga memuat 9.332 kasus pada pekerja luar ruangan dan 682 kasus pada ibu hamil. Adapun kelompok dengan asma atau penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) mencatat 1.747 kasus. Rincian ini memperlihatkan bahwa pemantauan mencakup usia, kondisi kesehatan, dan jenis aktivitas. Karena itu, setiap kategori menjawab pertanyaan yang berbeda. Data usia menunjukkan kelompok umur yang mencatat banyak kasus. Sementara itu, data pekerja luar ruangan memberi gambaran tentang kasus pada orang yang menjalankan aktivitas kerjanya di luar bangunan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><em><a href="https://faktasehari.com/tekno/fitur-baru-perluas-foto-vertikal/">Baca Juga : WhatsApp Uji Fitur Expand, Foto Kotak Bisa Menjadi Vertikal</a></em></strong></p>



<h2 class="wp-block-heading">Kemenkes Soroti Kualitas Udara sebagai Salah Satu Faktor Risiko</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, menyebut kualitas udara yang memburuk sebagai salah satu faktor risiko ISPA. Ia merujuk pada kondisi udara selama beberapa bulan terakhir. Di wilayah terdampak karhutla, asap kebakaran menjadi perhatian karena dapat memperburuk kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan. Namun, Aji juga menjelaskan bahwa kenaikan kasus mingguan di salah satu provinsi tidak tergolong signifikan. Ia merujuk pada pengamatan selama tiga hingga empat bulan. Keterangan tersebut memberi konteks pada angka kumulatif yang terus bertambah. Untuk menilai perubahan dari waktu ke waktu, cakupan data perlu tetap jelas. Dalam hal ini, penjelasan tentang pola mingguan merujuk pada satu provinsi, sedangkan rekap keseluruhan mencakup tujuh provinsi.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tren Harian ISPA Cenderung Turun di Enam Provinsi</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Grafik Kemenkes untuk periode 6 September hingga 5 November 2026 memperlihatkan kecenderungan penurunan kasus harian di enam provinsi. Wilayah tersebut meliputi Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Sumatera Selatan, dan Jambi. Meski demikian, jumlah kasus harian tetap naik turun selama periode pemantauan. Kalimantan Timur menjadi salah satu contohnya. Provinsi itu sempat mencatat peningkatan pada rentang akhir September hingga Oktober, lalu kembali menunjukkan kecenderungan menurun. Dengan demikian, tren turun menggambarkan arah umum dalam periode tersebut. Jika hanya melihat satu tanggal, perubahan sesaat bisa terlihat lebih besar daripada pola yang muncul saat data beberapa minggu dibaca bersama.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penambahan Kasus pada 5 November Naik 82</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Kemenkes mencatat penambahan 3.518 kasus ISPA secara keseluruhan pada 5 November 2026. Sehari sebelumnya, angka penambahannya mencapai 3.436 kasus. Artinya, rekap 5 November memuat 82 kasus lebih banyak daripada rekap 4 November. Kedua angka tersebut mencakup kasus ISPA secara keseluruhan, sehingga cakupannya berbeda dari angka khusus balita. Selain itu, perbandingan dua hari memberi gambaran yang lebih sempit daripada grafik selama beberapa pekan. Satu hari dapat mencatat penambahan lebih tinggi, sementara sebagian provinsi tetap menunjukkan arah penurunan dalam periode yang lebih panjang. Karena itu, tanggal, wilayah, dan kelompok usia perlu diperhatikan sebelum membandingkan dua angka dalam laporan yang sama.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mengapa Total Kasus Tetap Naik Saat Tren Harian Turun</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Angka kumulatif menjumlahkan seluruh kasus yang masuk dalam rekap sejak awal periode. Sementara itu, angka harian menunjukkan tambahan pada satu hari. Perbedaannya mudah terlihat melalui ilustrasi sederhana. Jika suatu wilayah mencatat 100 kasus baru hari ini dan 80 besok, penambahan hariannya turun sebanyak 20 kasus. Namun, total kumulatif tetap bertambah 80 pada hari kedua. Hal serupa menjelaskan mengapa laporan dapat menunjukkan penurunan tren harian di beberapa provinsi sekaligus kenaikan total kasus ISPA pada balita. Bagi keluarga di wilayah terdampak, perbedaan ini membantu menempatkan angka besar dalam konteks. Total kumulatif menunjukkan beban yang sudah tercatat, sementara tren harian membantu melihat perubahan jumlah kasus baru.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penanganan Balita Mengikuti Perkembangan Gejala</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Aji menjelaskan bahwa penanganan balita dengan ISPA bergantung pada kondisi anak. Menurut keterangannya, balita dengan gejala ringan dapat menjalani perawatan di rumah. Namun, jika kondisinya memburuk, anak perlu mendapat pemeriksaan dokter di fasilitas pelayanan kesehatan. Di tengah gangguan kualitas udara, mengurangi paparan asap juga menjadi bagian dari upaya melindungi kesehatan anak. Dalam praktiknya, keluarga menghadapi dua hal yang perlu diperhatikan secara bersamaan. Kondisi udara berkaitan dengan paparan di lingkungan, sedangkan perkembangan gejala membantu menentukan kebutuhan perawatan anak. Karena itu, penurunan kasus harian di tingkat provinsi tidak menggantikan penilaian terhadap kondisi balita yang sedang sakit.</p>
<p>The post <a href="https://tintaberita.com/kesehatan/kasus-ispa-balita-karhutla/">Asap Karhutla Jadi Sorotan, Kasus ISPA pada Balita Tembus 95.000</a> appeared first on <a href="https://tintaberita.com">Tinta Berita</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
