Kehamilan Usia Dini Berbahaya, Dokter Jelaskan Risiko Medis yang Sering Diabaikan

Kehamilan Usia Dini Berbahaya, Dokter Jelaskan Risiko Medis yang Sering Diabaikan

Tinta Berita – Kehamilan di usia belia meningkatkan risiko kesehatan bagi ibu dan bayi. Menurut dr. Amarylis Febrina Choirin Nisa Fathoni, SpOG., IBCLC., tubuh remaja belum memasuki fase reproduksi dewasa. Organ dan struktur tubuh masih berkembang sehingga tidak siap menghadapi tekanan selama kehamilan. Ia menegaskan bahwa perempuan berusia 15 tahun belum masuk klasifikasi reproduksi dewasa.

Tubuh Remaja Belum Matang untuk Proses Persalinan

Dalam dunia medis, kehamilan dini adalah kehamilan sebelum usia 20 tahun. Pada usia ini, panggul, kerangka, dan hormon belum stabil sepenuhnya. Dokter Nisa menyebut bahwa risiko paling tinggi muncul pada usia di bawah 18 tahun. Pada kelompok tersebut, remaja lebih rentan mengalami cephalopelvic disproportion (CPD), yaitu kondisi ketika kepala bayi lebih besar daripada panggul ibu.

Risiko Hambatan Persalinan Meningkat pada Usia Terlalu Muda

Baca Juga : Bayi Prematur Sangat Rentan Terhadap Infeksi RSV: Penjelasan Dokter dan Upaya Perlindungan

CPD membuat proses persalinan berlangsung lebih lama dan lebih melelahkan. Kondisi ini dapat memicu bahu bayi tersangkut, perubahan bentuk kepala, atau perdarahan. Remaja dengan tinggi badan di bawah 145 cm juga memiliki panggul yang lebih kecil. Akibatnya, bayi sering tidak bisa masuk ke jalan lahir meski pembukaan sudah lengkap. Karena itu, operasi caesar menjadi pilihan yang lebih aman.

Kehamilan Dini Juga Memicu Risiko Preeklampsia

Kehamilan yang terjadi terlalu muda sering berkaitan dengan preeklampsia. Penyakit ini muncul dengan tekanan darah tinggi dan bisa memburuk dengan cepat. Tubuh remaja belum stabil secara hormonal sehingga pembentukan plasenta kurang optimal. Kondisi tersebut membuat aliran darah tidak lancar dan mengganggu pertumbuhan janin.

Dampak Jangka Panjang Mengintai Kesehatan Reproduksi

Risiko kehamilan usia dini tidak berhenti setelah bayi lahir. Perempuan yang hamil terlalu cepat sering memiliki kesempatan reproduksi yang lebih panjang sehingga kemungkinan memiliki anak lebih banyak. Selain itu, aktivitas seksual di usia sangat muda meningkatkan risiko kanker serviks. Jika ditambah riwayat melahirkan berkali-kali, risikonya semakin besar dalam jangka panjang.

Kesiapan Mental dan Ekonomi Tidak Boleh Diabaikan

Selain faktor fisik, kesiapan mental dan finansial berperan besar dalam perjalanan kehamilan. Remaja belum memiliki kestabilan emosi untuk menghadapi perubahan tubuh, beban psikologis, dan tanggung jawab sebagai orang tua. Mereka juga belum mandiri secara ekonomi. Karena itu, dr. Nisa menyarankan agar perempuan memasuki kehamilan ketika sudah matang secara fisik, mental, dan finansial.

Pendidikan Reproduksi Penting untuk Mencegah Kehamilan Dini

Kehamilan dini dapat dicegah melalui edukasi yang tepat. Remaja perlu memahami risiko medis dan sosial yang mungkin muncul bila hamil terlalu cepat. Dengan pengetahuan yang cukup, mereka dapat membuat keputusan yang lebih sehat dan lebih aman untuk masa depan.