Nyeri Kaki Saat Berjalan, Kenali Tanda Penyakit Arteri Perifer
Tinta Berita – Penyakit arteri perifer dapat menimbulkan nyeri kaki ketika berjalan yang kemudian mereda setelah beristirahat. Keluhan seperti ini mudah dianggap sebagai kelelahan biasa, terutama setelah beraktivitas. Namun, pola yang terus berulang perlu mendapat perhatian. Spesialis jantung dan pembuluh darah, dr. Ruth Grace Aurora, Sp.JP, menjelaskan bahwa gangguan pembuluh darah merupakan salah satu kemungkinan penyebabnya. Meski demikian, nyeri kaki juga dapat berasal dari saraf atau otot. Karena itu, mengenali pola keluhan membantu proses pemeriksaan, tetapi belum cukup untuk menentukan diagnosis sendiri.
Klaudikasio Memiliki Pola Keluhan yang Khas
Nyeri akibat gangguan aliran darah yang muncul saat aktivitas disebut klaudikasio. Ketika berjalan, otot membutuhkan tambahan pasokan darah dan oksigen. Jika aliran tersebut tidak mencukupi, kaki dapat terasa nyeri atau kram. Keluhan kemudian berkurang ketika aktivitas dihentikan. Bayangkan seseorang yang berulang kali harus berhenti saat berjalan menuju tempat kerja karena betisnya sakit. Pola tersebut lebih penting diperhatikan daripada sekadar menyebut kaki sedang lelah. Namun, pemeriksaan tetap diperlukan karena kondisi lain dapat menimbulkan keluhan yang menyerupainya.
Jarak Berjalan yang Memendek Perlu Diperhatikan
Menurut dr. Ruth, keluhan dapat muncul pada jarak yang semakin pendek ketika gangguan aliran darah memberat. Seseorang mungkin awalnya mampu berjalan cukup jauh sebelum merasa nyeri. Selanjutnya, keluhan mulai terasa setelah menempuh jarak yang lebih singkat. Perubahan ini layak disampaikan kepada dokter, terutama jika mengganggu kegiatan sehari-hari. Mencatat lokasi nyeri, pemicunya, dan waktu yang dibutuhkan untuk mereda dapat membantu menjelaskan gejala. Meski demikian, perubahan jarak berjalan tidak boleh digunakan sebagai satu-satunya ukuran tingkat keparahan penyakit.
Kaki Dingin dan Luka Sulit Sembuh Menjadi Petunjuk
Selain nyeri saat berjalan, gangguan pembuluh darah dapat disertai kaki yang terasa lebih dingin, baal, atau perubahan kulit. Luka pada kaki maupun ujung jari yang sulit sembuh juga perlu diperiksa. Dr. Ruth menjelaskan bahwa aliran darah membawa oksigen dan nutrisi menuju jaringan. Ketika pasokannya terganggu, proses pemulihan luka dapat ikut terdampak. Karena itu, luka yang menetap tidak sebaiknya hanya ditutup dan diabaikan. Terutama bagi orang dengan diabetes, perubahan kecil pada kaki perlu mendapat perhatian sebelum kondisinya semakin memburuk.
Baca Juga : Aspirasi Sopir Towing Dibahas, Pertamina Menanti Evaluasi BPH Migas
Merokok dan Penyakit Penyerta Meningkatkan Risiko
Dr. Ruth menyoroti kebiasaan merokok sebagai faktor risiko penting penyakit arteri perifer. Selain itu, diabetes, hipertensi, dan kolesterol tinggi turut menjadi perhatian. Berat badan berlebih juga dapat berkaitan dengan faktor risiko kesehatan pembuluh darah. Oleh sebab itu, penilaian tidak hanya berfokus pada keluhan kaki. Riwayat kesehatan dan kebiasaan sehari-hari ikut membantu dokter memahami kemungkinan penyebabnya. Dari sudut pandang pencegahan, berhenti merokok dan mengendalikan penyakit penyerta merupakan langkah berarti. Perubahan tersebut perlu berjalan bersama pengobatan yang sesuai, bukan menggantikannya.
Usia Muda Tidak Menghapus Kemungkinan Gangguan
Penyakit arteri perifer sering dikaitkan dengan usia lanjut. Namun, usia yang lebih muda tidak otomatis menyingkirkan kemungkinan gangguan pembuluh darah. Dr. Ruth mengingatkan bahwa faktor risiko serta penyakit penyerta tetap perlu diperhatikan. Karena itu, seseorang sebaiknya tidak mengabaikan keluhan berulang hanya karena merasa masih muda. Sebaliknya, tidak setiap kesemutan berarti penyakit arteri perifer. Pendekatan yang lebih tepat adalah menilai gejala bersama riwayat kesehatan. Pemeriksaan membantu membedakan masalah pembuluh darah dari kemungkinan gangguan saraf, otot, atau kondisi lainnya.
Kesehatan Pembuluh Darah Kaki Berkaitan dengan Organ Lain
Gangguan arteri kaki tidak selalu berdiri sendiri. Dr. Ruth menjelaskan bahwa penyempitan pembuluh darah dapat ditemukan pada beberapa bagian tubuh, termasuk jantung dan leher. Namun, keluhan kaki tidak otomatis membuktikan adanya penyumbatan pembuluh darah koroner. Hubungan tersebut menjadi alasan untuk menilai kesehatan secara menyeluruh, terutama pada orang dengan faktor risiko. Secara praktis, pemeriksaan tidak hanya bertujuan menjelaskan rasa nyeri. Dokter juga dapat mengevaluasi kondisi penyerta yang perlu dikendalikan. Dengan demikian, perhatian terhadap kaki dapat membuka kesempatan memperbaiki kesehatan pembuluh darah secara lebih luas.
Pemeriksaan Membantu Memastikan Penyebab Nyeri
Dokter dapat menilai riwayat keluhan, kondisi kulit, dan denyut nadi pada kaki. Salah satu pemeriksaan untuk membantu menilai penyakit arteri perifer adalah ankle-brachial index atau ABI. Tes ini membandingkan tekanan darah pada pergelangan kaki dengan lengan. Pemeriksaan tambahan dapat diperlukan sesuai temuan dan kondisi pasien. Karena itu, penanganan sebaiknya mengikuti hasil evaluasi, bukan dugaan sendiri. Catatan tentang kapan nyeri muncul dan apakah istirahat membantu dapat menjadi informasi berguna saat berkonsultasi.
Kenali Keluhan yang Membutuhkan Pertolongan Segera
Nyeri kaki mendadak yang disertai kaki sangat dingin, pucat, baal, atau sulit digerakkan membutuhkan pertolongan segera. Keluhan tersebut dapat mengarah pada gangguan aliran darah akut, sehingga jangan menunggu sampai mereda sendiri. Sementara itu, nyeri saat istirahat atau luka yang semakin memburuk juga perlu segera diperiksa. Pesannya bukan untuk menganggap semua nyeri sebagai keadaan darurat. Yang penting adalah mengenali perubahan mendadak dan tanda berat, lalu mendapatkan penilaian medis tanpa menunda.
Jangan Menunggu Keluhan Mengganggu Aktivitas Lebih Jauh
Nyeri yang berulang saat berjalan layak diperiksa, terutama jika disertai faktor risiko penyakit pembuluh darah. Berkurangnya rasa sakit setelah istirahat bukan alasan untuk mengabaikannya. Selain mencari penyebab, pelari maupun pejalan kaki perlu mengikuti arahan aktivitas sesuai kondisi masing-masing. Tidak perlu memaksakan olahraga ketika muncul keluhan berat atau tanda darurat. Dari sudut pandang manusia, kemampuan berjalan nyaman memengaruhi banyak kegiatan sederhana. Memperhatikan gejala sejak awal membantu menjaga kesempatan untuk tetap aktif dengan penanganan yang tepat.


