Foto Jenazah Lula Lahfah Viral, Psikiater Tegaskan Kematian Bukan Konten Digital

Foto Jenazah Lula Lahfah Viral, Psikiater Tegaskan Kematian Bukan Konten Digital

Tinta Berita – Kepergian selebgram Lula Lahfah meninggalkan duka mendalam. Namun, peristiwa ini juga memicu polemik besar di media sosial. Pasalnya, foto jenazah almarhumah tersebar luas di berbagai platform. Akibatnya, publik bereaksi keras. Banyak warganet menilai unggahan tersebut tidak etis. Oleh karena itu, muncul seruan moral bertajuk “Death Is Not Content.” Seruan ini menjadi pengingat bahwa kematian bukan bahan hiburan digital. Selain itu, kasus ini memperlihatkan rapuhnya batas etika di era informasi cepat. Terutama ketika duka diperlakukan layaknya konten viral.

Emosi Tinggi Sering Mengalahkan Pertimbangan Etika

Menurut Psikiater PP-PDSKJI, dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, penyebaran konten kematian kerap dipicu reaksi spontan. Ketika seseorang melihat peristiwa mengejutkan, otak bisa masuk mode darurat. Akibatnya, dorongan berbagi muncul dengan cepat. Pada saat yang sama, pertimbangan etika sering tertinggal. Dalam kondisi kaget atau ngeri, kemampuan menimbang dampak menurun. Oleh sebab itu, refleks membagikan konten lebih dominan dibanding empati. Padahal, dampaknya bisa sangat luas.

Ketertarikan pada Tragedi dan Bahaya Normalisasi

Selain itu, Lahargo menjelaskan manusia memang tertarik pada peristiwa ekstrem. Dalam psikologi, hal ini dikenal sebagai morbid interest. Namun, masalah muncul ketika rasa ingin tahu berubah menjadi konsumsi massal. Terlebih lagi, konten tersebut dibagikan ulang tanpa konteks kemanusiaan. Di media sosial, batas antara berita dan penderitaan sering kabur. Akibatnya, paparan berulang dapat menumpulkan empati. Kondisi ini dikenal sebagai desensitisasi emosional. Jika dibiarkan, tragedi bisa dianggap hal biasa.

Baca Juga : Cara Menjaga Kaki Tetap Segar dan Bebas Bau di Musim Hujan

Pembenaran Moral yang Menyesatkan

Di sisi lain, banyak orang membenarkan tindakannya dengan dalih edukasi. Ada pula yang menyebutnya sebagai peringatan publik. Namun, menurut Lahargo, edukasi tidak memerlukan visual jenazah. Pembenaran ini merupakan bentuk moral disengagement. Artinya, seseorang meredam rasa bersalah atas tindakan bermasalah. Meski niatnya tidak jahat, dampaknya tetap melukai. Terutama bagi keluarga korban dan individu rentan.

“Death Is Not Content” sebagai Alarm Empati Digital

Oleh karena itu, seruan “Death Is Not Content” menjadi alarm penting. Pesan ini menegaskan empati tidak otomatis hadir di ruang digital. Empati perlu dilatih dan disadari. Banyak pengguna belum memahami dampak psikologis konten sensitif. Foto atau video jenazah bisa memicu trauma. Selain itu, unggahan tersebut dapat memperdalam duka keluarga. Karena itu, setiap orang bertanggung jawab atas konten yang dibagikan. Di tengah arus informasi cepat, nilai kemanusiaan harus tetap utama.