Depresi dan Kecemasan Ternyata Dapat Mengurangi Harapan Hidup hingga 20 Tahun

Depresi dan Kecemasan Ternyata Dapat Mengurangi Harapan Hidup hingga 20 Tahun

Tinta Berita – Gangguan kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan tidak hanya memengaruhi suasana hati serta kualitas hidup, tetapi juga berpotensi meningkatkan risiko berbagai penyakit fisik yang serius. Penelitian yang dipublikasikan dalam The Lancet Regional Health–Europe pada September 2025 menunjukkan bahwa individu dengan gangguan mental umum memiliki harapan hidup sekitar 10 hingga 20 tahun lebih pendek dibandingkan populasi umum. Salah satu penyebab utama kondisi tersebut adalah meningkatnya risiko penyakit kardiovaskular, termasuk penyakit jantung dan stroke. Temuan ini mempertegas bahwa kesehatan mental dan kesehatan fisik saling berkaitan sehingga keduanya perlu mendapatkan perhatian yang sama dalam upaya pencegahan maupun pengobatan.

Penelitian Ungkap Dampak Gangguan Mental terhadap Harapan Hidup

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa gangguan mental memiliki dampak yang jauh lebih luas daripada sekadar masalah psikologis. Orang yang mengalami depresi, gangguan kecemasan, bipolar, skizofrenia, maupun gangguan stres pascatrauma (PTSD) diketahui memiliki risiko kematian lebih tinggi dibandingkan masyarakat umum. Akibatnya, harapan hidup mereka dapat berkurang hingga dua dekade. Temuan tersebut menjadi pengingat bahwa kesehatan mental merupakan bagian penting dari kesehatan secara menyeluruh dan tidak boleh diabaikan.

Penyakit Jantung Menjadi Ancaman bagi Penderita Gangguan Mental

Para peneliti menemukan bahwa individu dengan gangguan kesehatan mental memiliki risiko penyakit jantung, stroke, serta kematian akibat penyakit kardiovaskular sekitar 50 persen hingga dua kali lebih tinggi. Peningkatan risiko tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor biologis dan perilaku yang saling berkaitan. Oleh sebab itu, pemeriksaan kesehatan fisik secara berkala menjadi langkah penting bagi mereka yang memiliki riwayat gangguan mental agar risiko komplikasi dapat dideteksi lebih awal.

Hubungan Kesehatan Mental dan Jantung Bersifat Dua Arah

Menariknya, hubungan antara kesehatan mental dan penyakit jantung tidak hanya berlangsung dalam satu arah. Seseorang yang mengalami penyakit jantung juga memiliki kemungkinan lebih besar mengalami depresi atau gangguan kecemasan. Bahkan, lebih dari 40 persen pasien penyakit kardiovaskular diketahui mengalami gangguan psikologis. Kondisi ini menunjukkan bahwa kesehatan mental dan kesehatan jantung saling memengaruhi sehingga penanganannya perlu dilakukan secara bersamaan.

Baca Juga: Agrinas Palma Perluas Pengelolaan Perkebunan hingga 4,11 Juta Hektare Nasional

Depresi dan Kecemasan Meningkatkan Risiko Kardiovaskular

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penderita depresi memiliki risiko sekitar 72 persen lebih tinggi mengalami penyakit jantung dibandingkan mereka yang tidak mengalami depresi. Sementara itu, gangguan kecemasan dikaitkan dengan peningkatan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular hingga 41 persen. Angka tersebut memperlihatkan bahwa gangguan mental dapat memberikan dampak serius terhadap kesehatan fisik apabila tidak ditangani sejak dini.

Skizofrenia Memiliki Risiko Kardiovaskular Paling Tinggi

Di antara berbagai gangguan mental yang diteliti, skizofrenia menjadi kondisi dengan risiko penyakit jantung paling tinggi. Penelitian menemukan bahwa penderita skizofrenia memiliki kemungkinan hampir dua kali lipat mengalami penyakit kardiovaskular dibandingkan populasi umum. Risiko yang mencapai sekitar 95 persen tersebut menunjukkan pentingnya pemantauan kesehatan fisik secara rutin bagi pasien dengan gangguan mental berat agar komplikasi dapat dicegah sedini mungkin.

Stres Kronis dan Peradangan Memperburuk Kondisi Tubuh

Peneliti menjelaskan bahwa stres berkepanjangan dapat memicu perubahan hormon dan meningkatkan proses peradangan dalam tubuh. Kedua mekanisme tersebut berkontribusi terhadap munculnya gangguan mental sekaligus meningkatkan risiko penyakit jantung. Selain itu, tekanan psikologis yang berlangsung lama juga dapat mengganggu keseimbangan sistem tubuh sehingga mempercepat munculnya berbagai penyakit kronis. Oleh karena itu, pengelolaan stres menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan secara menyeluruh.

Gaya Hidup Tidak Sehat Menjadi Faktor Pendukung

Gangguan mental sering kali memengaruhi kebiasaan sehari-hari seseorang. Sebagian penderita cenderung mengalami gangguan tidur, kurang berolahraga, memiliki pola makan yang kurang sehat, hingga meningkatkan kebiasaan merokok. Kombinasi berbagai faktor tersebut dapat memperbesar risiko penyakit jantung dalam jangka panjang. Karena itu, perubahan gaya hidup sehat menjadi salah satu langkah yang sangat dianjurkan untuk membantu mengurangi risiko komplikasi kesehatan.

Penanganan Kesehatan Mental dan Fisik Perlu Dilakukan Bersamaan

Para peneliti menilai layanan kesehatan perlu mengintegrasikan pemeriksaan kesehatan mental dan fisik secara lebih menyeluruh. Skrining gangguan mental di klinik jantung serta pemeriksaan faktor risiko penyakit jantung di layanan kesehatan jiwa menjadi langkah yang direkomendasikan. Selain itu, edukasi mengenai gaya hidup sehat, pengelolaan stres, serta peningkatan akses terhadap layanan kesehatan juga dinilai penting. Dengan pendekatan yang terintegrasi, kualitas hidup penderita diharapkan meningkat sekaligus membantu memperpanjang harapan hidup mereka.