Rupiah Tertekan, Ditutup di Rp16.896 per Dolar AS pada Kamis Sore
Tinta Berita – Pada Kamis (15/1) sore, nilai tukar rupiah ditutup di posisi Rp16.896 per dolar AS. Mata uang Garuda ini mengalami pelemahan sebesar 31 poin, atau sekitar minus 0,18 persen, dibandingkan dengan penutupan perdagangan pada hari sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan adanya tekanan terhadap rupiah yang masih berlanjut.
Kurs Referensi Bank Indonesia (Jisdor) Menempatkan Rupiah di Posisi Rp16.880
Selain itu, kurs referensi Bank Indonesia (BI), yang dikenal dengan nama Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), mencatatkan rupiah berada di posisi Rp16.880 per dolar AS pada perdagangan sore ini. Angka ini sedikit lebih rendah dari nilai tukar yang tercatat pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.
Pergerakan Mata Uang Asia Bervariasi
Di kawasan Asia, pergerakan mata uang cenderung bervariasi. Yuan China tercatat melemah 0,06 persen, sementara dolar Singapura turun 0,09 persen, dan peso Filipina juga melemah 0,15 persen. Di sisi lain, ringgit Malaysia mencatatkan penguatan sebesar 0,26 persen, sedangkan won Korea Selatan, yen Jepang, dan baht Thailand masing-masing menguat 0,48 persen, 0,03 persen, dan 0,32 persen.
Baca Juga : Tips Investasi Perak untuk Pemula yang Perlu Diketahui
Kurs Mata Uang Negara Maju Cenderung Stagnan atau Melemah
Untuk mata uang negara maju, pergerakan kurs juga bervariasi. Poundsterling Inggris tercatat stagnan, sedangkan euro Eropa melemah 0,05 persen dan franc Swiss turun 0,04 persen. Dolar Kanada menguat sedikit sebesar 0,01 persen, sedangkan dolar Australia melemah 0,07 persen.
Sentimen Negatif dan Prospek Pemangkasan Suku Bunga Jadi Faktor Penyebab Pelemahan Rupiah
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah terhadap dolar AS disebabkan oleh sentimen negatif yang terus berlanjut, terutama terkait dengan defisit anggaran Indonesia. Selain itu, prospek pemangkasan suku bunga oleh Bank Indonesia (BI) juga turut memberi dampak terhadap nilai tukar rupiah.
Dolar AS Masih Menguat Didukung Ekonomi yang Solid
Di sisi lain, dolar AS masih menunjukkan penguatan, didorong oleh data ekonomi AS yang solid serta retorika hawkish dari pejabat Federal Reserve (The Fed). Hal ini turut mempengaruhi pergerakan nilai tukar di pasar global, termasuk terhadap mata uang negara-negara berkembang seperti Indonesia.


