Ekonomi
bankofengland, beritaekonomi, beritainternasional, bisnisglobal, duniakerja, ekonomidunia, ekonomiglobal, ekonomiinggris, inflasiinggris, inggris2026, jobmarket, ketenagakerjaan, krisisekonomi, lowongankerja, pasartenagakerja, pengangguran, pengangguraninggris, perangiranas, tenagakerja
Adhitama Fazwan
Pengangguran Inggris Meningkat, Lowongan Kerja Turun ke Titik Terendah dalam Lima Tahun
Tinta Berita – Pasar tenaga kerja Inggris menghadapi tantangan baru di tengah ketidakpastian ekonomi global yang terus meningkat. Data terbaru menunjukkan tingkat pengangguran di Inggris mengalami kenaikan, sementara jumlah lowongan kerja menyusut ke level terendah dalam lima tahun terakhir. Kondisi ini memicu kekhawatiran mengenai perlambatan ekonomi yang semakin nyata, terutama setelah meningkatnya tensi geopolitik akibat konflik Iran dan Amerika Serikat. Selain itu, sektor-sektor yang selama ini menjadi penyerap tenaga kerja terbesar mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan yang dapat berdampak luas terhadap masyarakat dan dunia usaha.
Tingkat Pengangguran Inggris Mengalami Kenaikan
Kantor Statistik Nasional Inggris atau Office for National Statistics (ONS) melaporkan bahwa tingkat pengangguran naik menjadi 5 persen dalam periode tiga bulan hingga Maret 2026. Angka tersebut meningkat dibandingkan periode sebelumnya yang berada di level 4,9 persen. Meski kenaikannya terlihat kecil, kondisi ini cukup mengejutkan karena sebagian besar ekonom memperkirakan tingkat pengangguran akan tetap stabil. Kenaikan tersebut menjadi sinyal bahwa pasar tenaga kerja Inggris mulai merasakan dampak perlambatan ekonomi yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir.
Jumlah Pekerja dalam Payroll Mengalami Penurunan
Selain meningkatnya pengangguran, jumlah pekerja yang tercatat dalam sistem penggajian atau payroll juga mengalami penurunan signifikan. ONS mencatat sekitar 100 ribu pekerja keluar dari daftar payroll pada April 2026 sehingga total pekerja aktif turun menjadi 30,2 juta orang. Penurunan ini menjadi yang terbesar sejak Mei 2020 saat pandemi Covid-19 mencapai puncaknya. Meskipun angka tersebut masih dapat direvisi, data awal ini menunjukkan bahwa banyak perusahaan mulai mengurangi tenaga kerja sebagai langkah efisiensi.
Lowongan Kerja Menyusut ke Level Terendah
Sementara itu, jumlah lowongan pekerjaan terus mengalami penurunan dalam beberapa bulan terakhir. Berdasarkan data ONS, lowongan kerja berkurang sebanyak 28 ribu posisi dan kini hanya tersisa sekitar 705 ribu peluang kerja. Angka tersebut menjadi yang terendah sejak tahun 2021. Penurunan lowongan kerja menunjukkan bahwa perusahaan semakin berhati-hati dalam melakukan perekrutan akibat meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.
Baca Juga : Drone Blackbird Pecahkan Rekor Dunia, Lebih Kencang dari Mobil F1
Sektor Ritel dan Perhotelan Paling Terdampak
Dari seluruh sektor ekonomi, industri ritel dan perhotelan menjadi yang paling terdampak oleh pelemahan pasar tenaga kerja. Banyak pelaku usaha di kedua sektor tersebut memilih menunda perekrutan karyawan baru. Selain itu, sejumlah perusahaan juga melakukan pengurangan tenaga kerja untuk menjaga stabilitas operasional. Kondisi ini terjadi karena daya beli masyarakat mulai tertekan, sementara biaya operasional usaha terus meningkat akibat inflasi dan ketidakpastian pasar global.
Pertumbuhan Upah Reguler Mulai Melambat
Selain penurunan lapangan kerja, pertumbuhan pendapatan pekerja juga menunjukkan perlambatan. Pada kuartal pertama tahun ini, pertumbuhan upah reguler tercatat sebesar 3,4 persen. Angka tersebut turun dibandingkan periode sebelumnya yang mencapai 3,6 persen. Meskipun masih berada sedikit di atas tingkat inflasi, perlambatan pertumbuhan upah dapat mengurangi daya beli masyarakat. Akibatnya, konsumsi rumah tangga berpotensi melemah dan memberikan tekanan tambahan terhadap perekonomian Inggris.
ONS Menilai Pasar Tenaga Kerja Terus Melemah
Direktur Statistik Ekonomi ONS, Liz McKeown, menyatakan bahwa pasar tenaga kerja Inggris saat ini menunjukkan tren pelemahan yang cukup jelas. Menurutnya, jumlah lowongan kerja yang terus turun dan tingkat pengangguran yang meningkat menjadi indikator utama perlambatan aktivitas ekonomi. Selain itu, sektor dengan tingkat upah rendah mengalami dampak paling besar karena sangat sensitif terhadap perubahan kondisi ekonomi. Oleh sebab itu, pemerintah dan pelaku usaha perlu memantau perkembangan pasar tenaga kerja secara lebih serius.
Generasi Muda Menghadapi Tantangan Lebih Besar
Pelemahan pasar tenaga kerja ternyata memberikan dampak yang lebih besar kepada kelompok usia muda. Data ONS menunjukkan tingkat pengangguran usia 16 hingga 24 tahun melonjak menjadi 16,2 persen dalam periode tiga bulan hingga Maret. Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak tahun 2015. Banyak anak muda bekerja di sektor ritel dan perhotelan yang saat ini sedang mengalami tekanan besar. Akibatnya, peluang mendapatkan pekerjaan baru menjadi semakin terbatas bagi kelompok usia tersebut.
Konflik Timur Tengah Memengaruhi Ekonomi Inggris
Banyak analis menilai konflik antara Iran dan Amerika Serikat turut memberikan tekanan terhadap perekonomian Inggris. Ketidakstabilan geopolitik menyebabkan harga energi dan komoditas mengalami kenaikan. Selain itu, ketidakpastian global membuat dunia usaha cenderung menahan investasi dan perekrutan tenaga kerja baru. Dampak lanjutan dari kondisi ini dapat terlihat pada meningkatnya inflasi, melemahnya konsumsi rumah tangga, serta perlambatan pertumbuhan ekonomi nasional.
Bank of England Prediksi Pengangguran Masih Berpotensi Naik
Bank of England sebelumnya telah memberikan proyeksi yang cukup konservatif terkait kondisi pasar tenaga kerja. Dalam skenario dasar, tingkat pengangguran diperkirakan dapat mencapai 5,5 persen pada tahun 2027. Sementara itu, dalam skenario ekonomi yang lebih berat, angka tersebut berpotensi meningkat hingga 5,6 persen. Prediksi tersebut menunjukkan bahwa tantangan pasar tenaga kerja Inggris kemungkinan belum berakhir dalam waktu dekat dan memerlukan kebijakan yang tepat untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Pemerintah Tetap Melihat Sinyal Positif
Meski berbagai indikator menunjukkan pelemahan, pemerintah Inggris tetap melihat adanya beberapa perkembangan positif. Menteri Kerja dan Pensiun Inggris, Pat McFadden, menyebut jumlah pekerja saat ini masih lebih tinggi sekitar 416 ribu orang dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Menurutnya, hal tersebut menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja masih memiliki ketahanan tertentu di tengah tekanan global. Namun demikian, pemerintah tetap mewaspadai dampak konflik Timur Tengah yang dapat memperburuk kondisi ekonomi dan ketenagakerjaan dalam beberapa tahun mendatang.


