BI Siapkan Operasi Moneter Yuan dan Yen untuk Perkuat Stabilitas Rupiah

BI Siapkan Operasi Moneter Yuan dan Yen untuk Perkuat Stabilitas Rupiah

Tinta Berita – Bank Indonesia kembali mengambil langkah strategis untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan global yang terus meningkat. Melalui pernyataan Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, diketahui bahwa bank sentral akan merilis instrumen operasi moneter valuta asing dalam yuan atau renminbi (CNY) dan yen Jepang. Langkah ini diambil karena nilai tukar rupiah, bersama beberapa mata uang negara berkembang lainnya, masih tertekan akibat penguatan indeks dolar AS dan tingginya imbal hasil obligasi AS tenor panjang. Oleh karena itu, kondisi pasar global membuat aliran modal masuk ke emerging market semakin terbatas.

Pelemahan Rupiah Sejak Oktober Tunjukkan Tantangan yang Tidak Ringan

Destry menjelaskan bahwa rupiah mengalami pelemahan sekitar 0,48 persen sejak awal Oktober hingga pertengahan kuartal IV 2025. Sementara itu, sejumlah mata uang regional juga mengalami nasib serupa. Peso Filipina terdepresiasi 1,34 persen, baht Thailand melemah 0,21 persen, dan won Korea tertekan hingga 4,25 persen. Meski begitu, pergerakan harian menunjukkan volatilitas tinggi dengan sesekali terjadi penguatan tipis pada beberapa mata uang. Kondisi ini menandakan pasar sedang berada dalam fase sensitif yang mudah terpengaruh oleh sentimen luar negeri.

Baca Juga : Mencegah Deindustrialisasi: Mengapa Kualitas SDM Menjadi Penentu Masa Depan Indonesia

Intervensi Pasar Valas Sudah Dilakukan Namun Belum Cukup Efektif

Bank Indonesia selama ini telah melakukan berbagai bentuk intervensi untuk meredam volatilitas rupiah. Beberapa langkah yang ditempuh antara lain intervensi di pasar non-deliverable forward (NDF) offshore, NDF domestik untuk kebutuhan lindung nilai, serta intervensi melalui transaksi spot. Namun, menurut BI, berbagai instrumen tersebut belum sepenuhnya mampu memberikan perlindungan yang stabil bagi rupiah. Karena itu, pengembangan instrumen baru diperlukan untuk memperdalam pasar valuta asing domestik.

Instrumen Baru dalam Yuan dan Yen Menjadi Fokus Penguatan Valas

Sebagai langkah lanjutan, BI akan membuka operasi moneter valuta asing menggunakan dua mata uang utama Asia, yaitu yuan China dan yen Jepang. Destry menilai bahwa permintaan terhadap kedua mata uang tersebut semakin meningkat seiring meningkatnya aktivitas perdagangan dan transaksi keuangan dengan kedua negara. Dengan adanya instrumen ini, BI berharap stabilitas nilai tukar rupiah akan mendapat dukungan yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Peningkatan Transaksi LCT Indonesia–China Jadi Pendorong Utama

Salah satu alasan pemilihan yuan adalah meningkatnya Local Currency Transaction (LCT) antara Indonesia dan China. Destry menjelaskan bahwa transaksi LCT kedua negara kini mencapai sekitar 1 miliar dolar AS per bulan. Selain itu, perbankan domestik disebut masih kesulitan memperoleh likuiditas renminbi. Dengan dibukanya instrumen operasi moneter baru, bank-bank akan lebih mudah mendapatkan likuiditas CNY sehingga ketergantungan terhadap dolar AS dapat berkurang secara bertahap. Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa diversifikasi mata uang semakin penting dalam kebijakan moneter nasional.

Lonjakan Peserta LCT Tunjukkan Kebutuhan Mata Uang Non-Dolar

Destry juga mencatat bahwa perkembangan LCT Indonesia–China meningkat drastis sepanjang tahun 2025. Pada Oktober 2025 saja, volume transaksi meningkat 1,6 kali lipat dibandingkan total transaksi sepanjang 2024. Selain itu, jumlah peserta LCT melonjak dari 5.053 entitas menjadi lebih dari 15.473 entitas. Lonjakan ini menunjukkan betapa besar kebutuhan pelaku usaha terhadap opsi mata uang alternatif di pasar dalam negeri. Dengan demikian, BI berupaya memastikan bahwa kesiapan pasar terhadap renminbi dan yen dapat ditingkatkan melalui instrumen moneter yang lebih lengkap.

Harapan BI terhadap Stabilitas Rupiah di Tengah Pasar yang Bergejolak

Pada akhirnya, BI berharap bahwa pengembangan instrumen operasi moneter dalam yuan dan yen akan membantu menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global. Dengan pasar valas yang semakin dalam dan akses likuiditas yang lebih variatif, rupiah diharapkan memiliki fondasi yang lebih kuat. Selain itu, langkah ini juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang dalam mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.