Bertaruh Nyawa di Kamboja: Kisah WNI yang Berhasil Kabur dari “Penjara Scam”

Bertaruh Nyawa di Kamboja: Kisah WNI yang Berhasil Kabur dari "Penjara Scam"

Tinta Berita – Pada awalnya, RI—seorang pria 36 tahun asal Jakarta—hanya ingin bangkit setelah pandemi Covid-19 menghantam kehidupannya. Ia berharap menemukan peluang kerja yang lebih baik di luar negeri. Namun, alih-alih menemukan masa depan yang menjanjikan, RI justru mendapati dirinya terperangkap dalam pengalaman paling kelam dalam hidupnya. Melalui sebuah iklan lowongan di Facebook, ia ditawari pekerjaan sebagai butler dengan gaji yang sangat menarik. Tawaran itu tampak masuk akal, terlebih karena fasilitas makan dan tempat tinggal turut dijanjikan. Namun kenyataan yang menantinya di Kamboja jauh berbeda dari apa yang dibayangkannya.

Janji Manis Lowongan Kerja yang Berujung Perangkap

Awalnya, RI percaya sepenuhnya pada tawaran tersebut. Dengan kemampuan bahasa Inggris yang cukup baik, ia merasa cocok dengan posisi yang ditawarkan. Selain itu, gaji antara 1.200–1.500 dollar AS per bulan membuatnya berpikir bahwa kesempatan tersebut terlalu berharga untuk dilewatkan. Meski demikian, begitu ia mendarat di Kamboja pada 2021, tanda-tanda kejanggalan mulai terlihat. Perjalanan yang memakan waktu 3–4 jam dari bandara ke lokasi perusahaan dilakukan tanpa penjelasan arah yang jelas. Selain itu, kendaraan yang membawanya harus melintasi hutan-hutan, membuat RI mulai merasakan ada sesuatu yang tidak benar.

Perjalanan Menuju Kompleks yang Ternyata Penjara

Baca Juga : Gelombang Skandal AI di Kampus Elite Korea Selatan

Setibanya di lokasi, dugaan RI terbukti. Alih-alih hotel mewah, yang terlihat justru mirip penjara: gedung bertingkat yang dikelilingi tembok tinggi, kawat berduri, dan penjaga bersenjata yang mengawasi setiap sudutnya. Dari sinilah RI memahami bahwa ia telah dijebak untuk bekerja dalam operasi penipuan daring. Para pekerja lain yang berasal dari Thailand, Singapura, India, dan Pakistan sama-sama tidak diperbolehkan keluar area tersebut. Bahkan lebih parahnya, seluruh barang pribadi seperti paspor, telepon, hingga dokumen penting disita oleh perusahaan. Di sinilah RI menjalani hari-hari penuh tekanan dan ancaman yang membuat hidupnya terasa tidak aman sama sekali.

Ribuan WNI Bernasib Sama Dalam Jaringan Scam

Kasus yang menimpa RI ternyata bukanlah kejadian tunggal. Menurut Judha Nugraha, Direktur Perlindungan WNI Kemlu RI, lebih dari 10.000 warga Indonesia telah terjerat penipuan daring serupa. Dari jumlah tersebut, sekitar 1.500 di antaranya dikategorikan sebagai korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO). Angka ini menunjukkan betapa terorganisirnya jaringan kriminal tersebut, sekaligus menggambarkan betapa rentannya masyarakat yang sedang terdesak kebutuhan ekonomi terhadap tawaran kerja yang tampak meyakinkan. Kondisi ini menguatkan urgensi upaya perlindungan yang lebih serius untuk mengantisipasi korban baru.

Kehidupan Penuh Tekanan di Dalam “Penjara Scam”

Di dalam kompleks tertutup itu, RI dipaksa bekerja sebagai bagian dari operasi penipuan online yang menyasar berbagai negara. Setiap hari, ia harus mengikuti target, jadwal ketat, dan tekanan dari atasan. Jika gagal memenuhi target, hukuman berupa denda, pengekangan, atau kekerasan fisik dapat terjadi kapan saja. Lingkungan yang penuh teriakan, intimidasi, dan ketakutan membuat mentalnya semakin terpuruk. Namun, yang paling menakutkan bagi RI adalah kenyataan bahwa ia tidak memiliki identitas atau akses apa pun untuk meminta bantuan. Semua jalur komunikasi dipantau, membuatnya merasa terisolasi sepenuhnya.

Keinginan untuk Bertahan & Mencari Jalan Kabur

Meskipun tekanan terus menghimpit, RI tidak pernah menyerah mencari jalan keluar. Ia terus mencari celah, mengamati aktivitas penjaga, dan menantikan momen yang tepat untuk melapor. Dalam setiap detik yang ia jalani, rasa takut dan keyakinan untuk pulang ke Indonesia saling bertarung. Namun justru tekad untuk menyelamatkan dirinya yang membuatnya tetap kuat. Proses melarikan diri dari kompleks itu tidak mudah, tetapi keberaniannya membuahkan hasil. Dengan segala risiko yang mengancam nyawanya, ia akhirnya menemukan cara untuk lepas dari kawalan dan menghubungi pihak berwenang.

Pentingnya Kewaspadaan Terhadap Tawaran Kerja Luar Negeri

Kisah RI menjadi pengingat penting bagi masyarakat Indonesia untuk lebih berhati-hati dalam menerima tawaran pekerjaan di luar negeri. Terlebih dengan maraknya iklan lowongan yang tampak meyakinkan namun justru menjadi modus perekrutan sindikat kriminal. Kasus seperti ini menegaskan bahwa verifikasi, konsultasi dengan otoritas resmi, serta pengawasan pemerintah sangat diperlukan untuk mencegah semakin banyak korban yang terjebak. Selain itu, pengalaman RI menunjukkan bahwa dampak penipuan bukan hanya ekonomi, tetapi menyangkut keselamatan dan masa depan seseorang.