PHK Massal di Industri Komponen, Dampak Serius Lonjakan Impor Mobil Listrik BEV

PHK Massal di Industri Komponen, Dampak Serius Lonjakan Impor Mobil Listrik BEV

Tinta Berita – PHK massal mulai menjadi ancaman nyata bagi industri komponen Indonesia setelah lonjakan impor BEV tidak diimbangi oleh penjualan mobil listrik dalam negeri. Fenomena ini membuat rantai pasok industri otomotif mulai bergeser dari arah yang selama ini stabil menjadi kondisi penuh ketidakpastian. Menariknya, gejolak ini bukan hanya persoalan angka impor, tetapi juga tentang berubahnya pola konsumsi, arah kebijakan, serta kesiapan pabrik lokal menghadapi teknologi baru. Dari sudut pandang saya, kondisi ini menandakan bahwa transformasi kendaraan listrik di Indonesia sedang melaju lebih cepat daripada kesiapan industrinya dan celah inilah yang memukul para pekerja manufaktur komponen paling keras.

“Baca juga: OJK Tetapkan Batas Lima Tahun untuk Rekening Dormant

Produksi OEM Anjlok, Perusahaan Komponen Kehilangan Pasokan Utama

Penurunan produksi OEM menjadi faktor pemicu paling signifikan dalam meningkatnya risiko PHK massal. Rachmat Basuki, Sekjen GIAMM, menjelaskan bahwa turunnya produksi kendaraan nasional membuat komponen lokal kehilangan pasar terbesar mereka. Karena OEM adalah pembeli utama komponen, dampaknya langsung terasa: pabrik kehilangan pesanan, lini produksi melambat, dan permintaan menyusut drastis. Sebagai gambaran, penjualan mobil di Indonesia sepanjang Januari–Oktober 2025 hanya 635.844 unit, turun 10,6% dibanding tahun sebelumnya. Transisinya jelas: penurunan produksi membuat perusahaan komponen merosot lebih dalam bahkan hingga 30% seperti yang dilaporkan GIAMM.

Lonjakan Impor BEV Membuat Perusahaan Lokal Kewalahan

Selain penurunan penjualan, derasnya impor mobil listrik menjadi pukulan kedua bagi industri komponen lokal. Banyak BEV masuk dalam kondisi built-up alias utuh, sehingga tidak membutuhkan pasokan komponen dari pabrik domestik. Kombinasi dua tekanan ini menciptakan situasi yang sulit ditahan. Menurut saya pribadi, Indonesia tengah berada dalam zona transisi yang dilematis: mendorong kendaraan listrik memang penting, tetapi tanpa keseimbangan ekosistem industri, dampaknya bisa melumpuhkan fondasi manufaktur nasional.

Efisiensi Tenaga Kerja dan PHK Tak Terhindarkan

Seiring menurunnya permintaan, sejumlah pabrik mulai melakukan efisiensi tenaga kerja. Kasus pabrik Michelin yang sempat melakukan PHK terhadap 100 karyawan menjadi contoh nyata bagaimana tekanan ini memaksa perusahaan melakukan keputusan sulit. Walaupun beberapa pekerja dikabarkan kembali, kejadian tersebut cukup menggambarkan betapa rapuhnya industri ini menghadapi perubahan. Dengan latar belakang sektor manufaktur yang sangat bergantung pada keterampilan teknis, PHK bukan solusi ideal, karena merekrut dan melatih ulang tenaga baru di masa depan akan jauh lebih mahal. Inilah dilema yang membuat pabrik bertahan sebisa mungkin, tetapi pada akhirnya tetap harus mengambil langkah penghematan.

Pemain Besar Masih Bertahan Berkat Jaringan Ekspor

Di tengah tekanan PHK massal, beberapa perusahaan seperti Bosch dan Denso relatif lebih aman karena memiliki jaringan ekspor global. Mereka dapat mengalihkan pasokan ke luar negeri ketika pasar domestik melemah. Namun, pabrik komponen lokal tidak memiliki kemewahan tersebut. Kendala akses pasar, keterbatasan modal, hingga lemahnya jaringan internasional membuat mereka sulit mencari alternatif pembeli. Menurut analisis saya, ketimpangan inilah yang menunjukkan betapa rentannya industri kecil-menengah dalam menghadapi gelombang besar kendaraan listrik impor.

“Baca juga: China Hentikan Impor Seafood Jepang, Ketegangan Diplomatik Kian Memanas

Pelaku Industri Minta Pemerintah Beri Stimulus Ekonomi

Menghadapi risiko PHK massal yang semakin meluas, pelaku industri meminta pemerintah mengulang kebijakan insentif seperti masa pandemi khususnya PPN Ditanggung Pemerintah. Stimulus tersebut terbukti meningkatkan penjualan mobil secara signifikan pada 2022 dan membuat rantai pasok otomotif bertahan. Mengingat tingginya ketergantungan industri komponen terhadap volume produksi, insentif semacam ini dapat menjadi penyangga sementara hingga permintaan kembali pulih. Menurut saya, kebijakan fiskal yang adaptif menjadi faktor penting untuk mencegah kerusakan struktural yang sulit diperbaiki di masa depan.

Risiko Kerusakan Rantai Pasok Bisa Merembet ke Sektor Lain

Jika PHK massal terus terjadi, kita tidak hanya berbicara tentang nasib pekerja, tetapi juga tentang potensi kerusakan rantai pasok nasional. Kerusakan tersebut dapat menyebabkan penurunan kapasitas produksi, hilangnya keterampilan teknis, hingga ketergantungan yang makin besar pada impor. Dalam jangka panjang, kemampuan Indonesia memproduksi kendaraan, baik konvensional maupun listrik, bisa terancam. Perubahan cepat ini mengingatkan saya pada kasus Thailand satu dekade lalu, di mana industri komponen tradisional terguncang ketika pemerintah membuka keran impor terlalu cepat.

Transformasi BEV Harus Diiringi Kebijakan yang Lebih Seimbang

Lonjakan BEV sebenarnya mencerminkan kemajuan, tetapi tanpa strategi menyeluruh, transformasi hijau dapat menciptakan masalah baru seperti PHK massal. Pemerintah perlu menyeimbangkan antara keberlanjutan lingkungan dan keberlangsungan industri lokal. Menurut opini saya, arah kebijakan masa depan harus mencakup kewajiban TKDN BEV yang lebih tinggi, dukungan bagi pabrik komponen untuk beralih ke produksi part EV, serta proteksi terbatas agar industri tidak tumbang sebelum sempat bertransformasi. Dengan pendekatan lebih holistik, Indonesia dapat melewati fase transisi ini tanpa meninggalkan sektor manufakturnya.