Musim Kemarau Diprediksi Tiba April 2026, BMKG Pastikan La Nina Lemah Berakhir di Kuartal Pertama

Musim Kemarau Diprediksi Tiba April 2026, BMKG Pastikan La Nina Lemah Berakhir di Kuartal Pertama

Tinta Berita – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa sebagian besar wilayah Indonesia akan mulai memasuki musim kemarau pada April 2026. Sementara itu, musim hujan diperkirakan berakhir antara Februari hingga Maret, terutama di Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

Menurut Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, hujan dengan intensitas sedang hingga ekstrem masih berpotensi terjadi dalam waktu dekat. Ini disebabkan oleh adanya pengaruh fenomena iklim La Nina lemah yang masih aktif saat ini.

La Nina Diprediksi Melemah dan Bergeser ke Fase Netral

Lebih lanjut, Faisal menjelaskan bahwa curah hujan tinggi yang terjadi saat ini berasal dari La Nina lemah, yaitu fenomena pendinginan suhu laut di Samudra Pasifik yang berdampak pada peningkatan curah hujan.

“Berdasarkan indeks Nino 3.4, kondisi ini akan terus melemah hingga Maret 2026, lalu masuk ke fase netral,” kata Faisal.

Dengan begitu, dampak La Nina diperkirakan akan berkurang secara bertahap, sehingga musim hujan akan berakhir dan digantikan oleh pola musim kemarau yang lebih stabil.

Musim Kemarau Akan Berlangsung hingga September 2026

Dalam laporan Climate Outlook 2026, BMKG menyebutkan bahwa musim kemarau diprediksi berlangsung dari April hingga sekitar September. Wilayah selatan khatulistiwa, seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, akan menjadi kawasan pertama yang mengalami transisi.

Baca Juga : Panduan Terbang Bareng Balita agar Perjalanan Lebih Nyaman dan Bebas Drama

Menariknya, tidak ada indikasi munculnya El Nino tahun ini, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Artinya, musim kemarau tahun ini diperkirakan normal, tanpa gangguan besar seperti kekeringan ekstrem.

Suhu Udara Tahun Ini Lebih Rendah dari 2024

BMKG juga memperkirakan bahwa suhu udara nasional pada 2026 akan lebih rendah dibandingkan tahun 2024. Kondisi ini terjadi karena tidak adanya El Nino yang biasanya memicu peningkatan suhu udara secara signifikan.

Selain itu, fase netral iklim memungkinkan kondisi cuaca yang lebih stabil. Suhu akan berada dalam kisaran normal historis, tanpa fluktuasi ekstrem seperti yang terjadi selama dua tahun terakhir.

Cuaca Ekstrem Masih Perlu Diwaspadai Hingga Maret

Walau musim kemarau akan segera tiba, BMKG mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada. Cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi hingga Maret 2026, seiring berakhirnya masa puncak musim hujan.

“Kami memperkuat sistem peringatan dini berbasis dampak agar masyarakat mendapat informasi bukan hanya soal intensitas hujan, tapi juga potensi risikonya,” tegas Faisal.

Langkah ini diambil untuk mengantisipasi bencana seperti banjir, tanah longsor, dan angin kencang yang biasanya terjadi saat masa peralihan musim.

Tantangan Utama: Bukan Lagi El Nino atau La Nina, Tapi Perubahan Iklim

Dalam pernyataannya, Faisal juga menekankan bahwa tantangan terbesar saat ini bukan hanya El Nino atau La Nina, melainkan perubahan iklim jangka panjang. Fenomena ini terlihat dari naiknya suhu rata-rata dan meningkatnya kelembapan udara di banyak wilayah.

Akibatnya, pola musim semakin sulit diprediksi. Selain itu, intensitas dan frekuensi cuaca ekstrem cenderung meningkat. Maka dari itu, adaptasi terhadap perubahan iklim perlu segera diperkuat, baik melalui edukasi publik maupun kebijakan lintas sektor.