Benarkah Stres Bisa Memicu Serangan Jantung? Ini Penjelasannya
Tinta Berita – Jantung berdebar setelah menerima kabar mengejutkan adalah respons yang umum. Biasanya, detaknya kembali normal ketika keadaan tenang. Namun, stres juga dapat menambah beban pada jantung, terutama jika seseorang sudah memiliki penyakit jantung koroner. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia, penyakit kardiovaskular menyebabkan sekitar 19,8 juta kematian pada 2022. Angka itu mencakup berbagai gangguan jantung dan pembuluh darah, termasuk stroke. Karena itu, hubungan antara stres dan serangan jantung perlu dipahami dengan tepat. Stres dapat menjadi salah satu pemicu dalam keadaan tertentu. Meski demikian, seseorang tidak otomatis mengalami serangan jantung hanya karena sedang menghadapi masalah berat.
Tubuh Bereaksi Cepat Saat Mengalami Stres Mendadak
Ketika seseorang sangat takut, marah, atau terkejut, tubuh memasuki keadaan siaga. Tubuh melepaskan hormon stres, lalu detak jantung dan tekanan darah dapat meningkat. Pada saat yang sama, jantung membutuhkan lebih banyak oksigen. Dr Rachit Saxena menjelaskan bahwa perubahan mendadak ini perlu diwaspadai oleh orang yang sudah memiliki penyakit jantung koroner. Pembuluh darah mereka mungkin telah mengalami penyempitan akibat penumpukan plak. Akibatnya, jantung memiliki ruang lebih kecil untuk menghadapi lonjakan kebutuhan oksigen. Inilah sebabnya suatu peristiwa emosional terkadang mendahului serangan jantung. Namun, urutan kejadian tersebut tetap memerlukan penilaian medis untuk memastikan penyebabnya.
Plak di Pembuluh Darah Bisa Menambah Risiko
Plak merupakan penumpukan material di dinding pembuluh darah. Jika menumpuk di pembuluh koroner, plak dapat mengurangi aliran darah menuju otot jantung. Dalam keadaan tertentu, plak bisa pecah dan memicu pembentukan gumpalan darah. Gumpalan itu kemudian dapat menyumbat aliran darah dan menyebabkan serangan jantung. Menurut Dr Rachit, respons tubuh terhadap stres mendadak berpotensi memperburuk keadaan pada orang yang sudah memiliki plak. Akan tetapi, bukan berarti setiap luapan emosi pasti membuat plak pecah. Risiko tiap orang berbeda, bergantung pada kondisi pembuluh darah dan faktor kesehatan lainnya. Karena itu, riwayat penyakit jantung penting diperhatikan saat seseorang membicarakan dampak stres.
Stres Kronis Memberi Dampak Secara Bertahap
Berbeda dari syok sesaat, stres kronis berlangsung lama. Tekanan pekerjaan atau masalah pribadi bisa membuat tubuh terus merasa waspada. Seiring waktu, kondisi tersebut dapat berkaitan dengan tekanan darah tinggi dan kebiasaan yang kurang sehat. Seseorang mungkin menjadi sulit tidur, jarang bergerak, atau lebih sering merokok. Dr Vivek Tandon mengingatkan bahwa stres jangka panjang juga dapat memengaruhi pembuluh darah dan irama jantung. Dampaknya sering tidak terasa sekaligus. Justru karena berlangsung perlahan, orang bisa mengabaikannya sampai keluhan lain muncul. Mengelola stres menjadi langkah penting, tetapi pemeriksaan kesehatan tetap diperlukan untuk mengetahui kondisi jantung secara lebih jelas.
Baca juga : Apple Music Hall di London Satukan Konser dan Rekaman Spatial Audio
Serangan Jantung Melibatkan Banyak Faktor Risiko
Stres bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan. Tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, diabetes, kebiasaan merokok, dan riwayat keluarga juga dapat meningkatkan risiko penyakit jantung. Usia turut berpengaruh, walaupun orang muda tetap perlu menjaga kesehatannya. Karena itu, jangan langsung menyimpulkan bahwa serangan jantung seseorang semata-mata terjadi karena tekanan pikiran. Dokter perlu melihat gejala, riwayat kesehatan, dan hasil pemeriksaan. Bagi pembaca, langkah yang lebih berguna ialah mengenali faktor risiko masing-masing. Pemeriksaan tekanan darah dan konsultasi kesehatan dapat menjadi awal yang sederhana. Dengan begitu, upaya mengurangi stres berjalan bersama penanganan faktor risiko lainnya.
Kenali Gejala yang Membutuhkan Pertolongan Segera
Rasa tertekan atau nyeri di dada merupakan salah satu tanda serangan jantung yang perlu diwaspadai. Keluhan dapat berlangsung beberapa menit atau hilang lalu muncul kembali. Selain itu, seseorang mungkin mengalami sesak napas, keringat dingin, mual, atau pusing. Rasa tidak nyaman juga bisa menjalar ke lengan, punggung, leher, atau rahang. Gejala tidak selalu sama pada setiap orang. Oleh sebab itu, jangan menganggap nyeri dada sebagai akibat stres biasa tanpa pemeriksaan. Jika muncul tanda yang mengarah pada serangan jantung, segera hubungi layanan darurat setempat atau cari pertolongan medis. Penanganan yang cepat memberi kesempatan lebih baik untuk melindungi otot jantung.
Mengelola Stres Juga Berarti Memperhatikan Kebiasaan Harian
Saat tekanan hidup meningkat, mulailah memperhatikan tidur, aktivitas fisik, dan pola makan. Sisihkan waktu untuk beristirahat dan bicarakan masalah dengan orang yang dipercaya. Langkah sederhana ini dapat membantu seseorang menghadapi stres dengan lebih baik. Namun, orang yang memiliki hipertensi, diabetes, atau penyakit jantung tetap perlu mengikuti perawatan medis. Jika stres sering muncul bersama keluhan fisik, ceritakan keduanya saat berkonsultasi. Informasi tersebut membantu tenaga kesehatan memahami keadaan secara menyeluruh. Mengurangi tekanan pikiran memang penting. Pada saat yang sama, mengendalikan faktor risiko yang sudah diketahui merupakan bagian penting dari menjaga kesehatan jantung.
Dengarkan Sinyal Tubuh dan Jangan Menunda Pemeriksaan
Stres bisa muncul sebagai perasaan tertekan, tidur terganggu, atau tubuh yang sulit rileks. Namun, keluhan dada dan sesak napas memerlukan perhatian tersendiri. Seseorang tidak dapat memastikan penyebabnya hanya dari dugaan pribadi. Karena itu, pemeriksaan medis menjadi penting ketika gejala mengkhawatirkan muncul. Bagi orang tanpa gejala darurat, mengenali tekanan hidup dan memeriksa faktor risiko secara berkala dapat membantu menjaga kesehatan. Jawaban atas pertanyaan utama artikel ini pun menjadi lebih jelas: stres dapat meningkatkan risiko dan kadang berperan sebagai pemicu serangan jantung. Kondisi tersebut terutama perlu diwaspadai jika seseorang sudah memiliki masalah pada jantung atau pembuluh darah.


