Agenda Netanyahu di PBB Disorot, Tak Ada Pertemuan dengan Trump
Tinta Berita – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu datang ke New York pada 24 September 2026 untuk menghadiri Sidang Umum PBB. Namun, agenda kunjungannya kali ini berbeda dari kunjungan sebelumnya karena tidak mencantumkan pertemuan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Reuters melaporkan kunjungan Netanyahu berlangsung sangat singkat, kurang dari delapan jam, sebelum ia kembali ke Israel. Kantor Netanyahu menyebut ia tetap memiliki sejumlah agenda bilateral dengan pemimpin negara lain.
Tidak adanya pertemuan dengan Trump kemudian menjadi perhatian karena hubungan AS-Israel memiliki posisi penting dalam diplomasi Timur Tengah. Meski demikian, ketiadaan agenda tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan adanya perubahan kebijakan Amerika Serikat terhadap Israel. Al Jazeera juga mencatat bahwa dukungan Washington terhadap Israel di PBB tetap berlangsung.
Sejumlah Pertemuan Tetap Masuk Agenda Netanyahu
Meskipun tidak bertemu Trump, Netanyahu tetap dijadwalkan menemui sejumlah pemimpin negara selama kunjungannya. Agenda tersebut mencakup pertemuan dengan Presiden Argentina, Bolivia, Paraguay, Panama, dan Ethiopia. Selain itu, terdapat rencana pertemuan dengan Wakil Presiden Kolombia serta perdana menteri Yunani, Slovenia, dan Papua Nugini.
Kantor Perdana Menteri Israel menjelaskan bahwa banyak pemimpin dunia meminta bertemu Netanyahu. Namun, keterbatasan waktu membuat hanya sebagian agenda yang dapat diakomodasi. Penjelasan tersebut penting karena absennya pertemuan dengan seorang pemimpin tertentu tidak selalu berarti tidak ada komunikasi diplomatik. Dalam konteks kunjungan yang sangat singkat, jadwal juga dipengaruhi kebutuhan keamanan dan agenda Sidang Umum PBB. Karena itu, situasi tersebut lebih tepat dilihat melalui keseluruhan agenda Netanyahu, bukan hanya satu pertemuan yang tidak terjadi.
Kunjungan Singkat Berlangsung di Tengah Tekanan Diplomatik
Kunjungan Netanyahu berlangsung ketika Israel menghadapi kritik internasional yang luas terkait perang di Gaza serta kebijakan di Tepi Barat. Reuters mencatat hubungan Israel dengan sejumlah mitra tradisional di Eropa mengalami ketegangan, sementara Netanyahu justru memiliki agenda dengan beberapa negara Amerika Latin dan negara lain.
Pada saat yang sama, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres dalam pertemuan mengenai solusi dua negara pada 22 September menyerukan penghentian perluasan permukiman dan pencegahan aneksasi. Ia juga menyebut sejumlah negara telah mengakui Negara Palestina pada tahun sebelumnya.
Situasi tersebut memperlihatkan bahwa isu Israel-Palestina menjadi salah satu agenda utama dalam diplomasi PBB. Namun, sikap setiap negara tetap berbeda. Karena itu, istilah seperti “dikucilkan” perlu ditempatkan sebagai interpretasi politik, bukan fakta tunggal yang dapat menjelaskan seluruh hubungan diplomatik Israel.
Baca Juga : ShinyHunters Klaim Bobol FBI, Data Sensitif Agen Jadi Sorotan
Pengakuan Palestina Menjadi Isu Penting di PBB
Perubahan sikap sejumlah negara terhadap Palestina turut menjadi latar diplomatik dalam Sidang Umum PBB tahun ini. Guterres menyebut Kanada, Prancis, Inggris, dan Arab Saudi termasuk negara yang ikut menggelar pertemuan tingkat tinggi mengenai solusi dua negara. Ia menegaskan bahwa pengakuan Palestina dipandang oleh negara-negara tersebut sebagai bagian dari upaya menuju penyelesaian konflik.
Di sisi lain, Israel mempertahankan posisi yang berbeda mengenai perang dan proses politik dengan Palestina. Netanyahu menggunakan pidatonya di PBB untuk membela kebijakan Israel serta menanggapi kritik terhadap negaranya. Reuters sebelumnya melaporkan bahwa Netanyahu menyatakan akan menggunakan panggung PBB untuk menyampaikan pandangan Israel mengenai konflik tersebut.
Dengan demikian, forum PBB menjadi ruang perdebatan diplomatik yang mempertemukan berbagai posisi. Perbedaan tersebut terlihat dari agenda pertemuan, pidato, serta respons negara-negara anggota.
Rencana Permukiman di Tepi Barat Ikut Disorot
Selain perang di Gaza, kebijakan Israel terkait permukiman di Tepi Barat juga menjadi perhatian internasional. Pemerintah Israel melanjutkan pembahasan mengenai proyek E1 yang berada di kawasan strategis antara Yerusalem dan sejumlah permukiman di Tepi Barat. Rencana tersebut telah lama menjadi persoalan dalam pembahasan mengenai solusi dua negara.
Sekretaris Jenderal PBB dalam pernyataannya pada September 2026 menyerukan agar perluasan permukiman dihentikan dan aneksasi dicegah. Ia juga menekankan pentingnya mempertahankan kemungkinan terbentuknya negara Palestina yang berkesinambungan secara wilayah.
Sementara itu, Israel menghadapi respons berbeda dari sejumlah negara Barat terkait kebijakan tersebut. Kondisi ini menambah kompleksitas hubungan diplomatik Israel dengan sebagian mitranya. Namun, hubungan antarnegara tetap memiliki banyak dimensi, sehingga satu kebijakan tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya ukuran hubungan bilateral.
Tidak Bertemu Trump Belum Berarti Putus Dukungan AS
Ketiadaan pertemuan Netanyahu dan Trump menjadi sorotan, tetapi beberapa laporan memberikan konteks yang lebih luas. AP menyebut Netanyahu memang tidak dijadwalkan bertemu Trump selama kunjungan singkatnya ke New York. Pada saat yang sama, Trump memiliki agenda internasional lain, termasuk pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping di Washington.
Al Jazeera juga mencatat bahwa dukungan Amerika Serikat terhadap Israel di forum PBB tetap berlangsung. Karena itu, tidak adanya pertemuan bilateral dalam satu kunjungan tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa dukungan AS terhadap Israel telah berubah secara menyeluruh.
Hal tersebut menjadi penting ketika membaca perkembangan diplomasi secara objektif. Hubungan antarnegara dapat dipengaruhi oleh jadwal, kepentingan strategis, kondisi keamanan, serta perkembangan politik yang lebih luas.
Netanyahu Tetap Menjadikan PBB sebagai Panggung Diplomasi
Di tengah berbagai sorotan, Netanyahu tetap menyampaikan pidato di Sidang Umum PBB pada 24 September. Kehadirannya juga diwarnai aksi demonstrasi di New York. Sejumlah peserta demonstrasi meninggalkan ruang sidang ketika Netanyahu mulai berbicara, menurut laporan CBS News.
Netanyahu menggunakan pidatonya untuk membela Israel dan menanggapi kritik yang diarahkan kepada pemerintahannya. Sebelumnya, ia juga menyatakan akan menggunakan forum tersebut untuk menyampaikan pandangan Israel mengenai perang dan keamanan nasional.
Situasi tersebut memperlihatkan bahwa kunjungan Netanyahu ke PBB bukan sekadar agenda seremonial. Forum tersebut menjadi tempat berlangsungnya perdebatan terbuka mengenai Gaza, Palestina, keamanan Israel, dan hubungan internasional.
Masa Depan Hubungan Israel dan Negara Barat Masih Dinamis
Tidak adanya pertemuan dengan Trump menjadi salah satu perkembangan penting dalam kunjungan Netanyahu, tetapi dampaknya terhadap hubungan AS-Israel masih perlu dilihat melalui perkembangan berikutnya. Di satu sisi, hubungan tersebut tetap memiliki kerja sama strategis yang panjang. Di sisi lain, perang di Gaza dan kebijakan Israel di Tepi Barat telah memicu kritik dari sejumlah negara Barat.
Reuters menggambarkan kunjungan Netanyahu tahun ini sebagai jauh lebih singkat dibandingkan kunjungannya pada tahun sebelumnya. Sementara itu, agenda bilateralnya lebih banyak melibatkan sejumlah negara lain.
Karena itu, pertanyaan mengenai apakah Israel semakin terisolasi membutuhkan indikator yang lebih luas. Pengakuan Palestina, hubungan dengan Eropa, dukungan AS, keputusan mengenai permukiman, serta perkembangan perang semuanya menjadi bagian dari gambaran yang lebih besar. Untuk saat ini, yang terlihat adalah meningkatnya tekanan diplomatik dalam sejumlah forum, sementara hubungan strategis Israel dengan Amerika Serikat tetap berjalan.


