Rupiah Melemah ke Rp17.936, Tekanan Dolar AS Kembali Menguat

Rupiah Melemah ke Rp17.936, Tekanan Dolar AS Kembali Menguat

Tinta Berita – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan pada perdagangan Jumat pagi, 25 September 2026. Mata uang Garuda tercatat berada di level Rp17.936 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah sekitar 20 poin atau 0,11 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Pelemahan tersebut terjadi ketika pasar valuta asing masih menghadapi dinamika global yang cukup kuat. Pergerakan dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Selain itu, kondisi pasar regional Asia juga menunjukkan pergerakan yang beragam. Beberapa mata uang mampu menguat terhadap dolar AS, sementara sebagian lainnya masih mengalami tekanan akibat sentimen ekonomi global.

Dengan kondisi tersebut, pelaku pasar terus mencermati berbagai faktor eksternal yang dapat memengaruhi arah rupiah. Terutama, kebijakan bank sentral Amerika Serikat serta perkembangan ekonomi internasional yang masih menjadi perhatian utama investor.

Mata Uang Asia Bergerak Beragam Terhadap Dolar AS

Pada perdagangan yang sama, sejumlah mata uang Asia menunjukkan penguatan terhadap dolar AS. Peso Filipina tercatat naik 0,11 persen, sedangkan ringgit Malaysia menguat 0,37 persen.

Selain itu, dolar Singapura juga mengalami apresiasi tipis sebesar 0,01 persen. Yen Jepang mencatat kenaikan 0,29 persen, sementara won Korea Selatan menjadi salah satu mata uang Asia yang menguat cukup besar dengan kenaikan 0,60 persen.

Namun, tidak seluruh mata uang kawasan mampu bergerak positif. Yuan China tercatat melemah 0,03 persen terhadap dolar AS. Sementara itu, dolar Hong Kong juga mengalami koreksi tipis sebesar 0,01 persen.

Perbedaan pergerakan tersebut menunjukkan bahwa pasar masih sangat sensitif terhadap perubahan sentimen global. Oleh karena itu, investor terus memperhatikan perkembangan ekonomi setiap negara serta kebijakan moneter yang diterapkan.

Prospek Rupiah Masih Dibayangi Kebijakan The Fed

Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan rupiah masih memiliki peluang mengalami pelemahan terhadap dolar AS. Menurutnya, penguatan indeks dolar dan kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat menjadi faktor yang memberikan tekanan.

Selain itu, prospek kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober turut menjadi perhatian pasar. Pernyataan sejumlah pejabat The Fed yang cenderung mempertahankan kebijakan ketat membuat dolar AS kembali mendapatkan dukungan.

“Rupiah diperkirakan masih melemah terhadap dolar AS, dengan indeks dolar dan imbal hasil obligasi AS yang terus menanjak,” ujar Lukman.

Baca Juga : ‘Super Flu’ Merebak, Mengapa Anak Lebih Rentan Terkena Influenza?

Namun demikian, pasar masih melihat adanya sejumlah faktor yang dapat membantu menahan pelemahan rupiah. Kondisi tersebut membuat pergerakan mata uang Garuda tetap berada dalam pengawasan investor.

Harga Minyak Dunia dan Konflik Global Jadi Perhatian

Selain faktor kebijakan moneter Amerika Serikat, perkembangan geopolitik juga ikut memengaruhi arah rupiah. Salah satu faktor yang diperhatikan pasar adalah peluang tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran.

Menurut Lukman Leong, perkembangan tersebut berpotensi memberikan sentimen positif bagi pasar. Selain itu, penurunan harga minyak mentah dunia juga dapat membantu mengurangi tekanan terhadap mata uang Indonesia.

Pasalnya, perubahan harga energi global dapat memberikan dampak terhadap kondisi perdagangan dan biaya impor suatu negara. Karena itu, pergerakan minyak menjadi salah satu indikator yang terus diperhatikan oleh pelaku pasar.

Meskipun demikian, pasar masih menunggu perkembangan lebih lanjut mengenai kondisi geopolitik tersebut. Sentimen positif baru dapat terlihat apabila terdapat kepastian dari berbagai pihak terkait.

Rupiah Diperkirakan Bergerak di Rentang Rp17.850-Rp18.000

Melihat kondisi pasar saat ini, Lukman Leong memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.850 hingga Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan Jumat.

Pergerakan tersebut mencerminkan adanya keseimbangan antara tekanan dari penguatan dolar AS dan faktor pendukung yang dapat menahan pelemahan rupiah.

Selain itu, investor juga akan mencermati berbagai data ekonomi global yang dapat memberikan gambaran mengenai arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat ke depan.

Dengan demikian, pergerakan rupiah masih sangat bergantung pada kombinasi faktor domestik dan internasional. Stabilitas pasar serta sentimen investor menjadi elemen penting dalam menentukan arah nilai tukar.

Faktor Ekonomi Global Tetap Menjadi Penggerak Utama

Dalam beberapa waktu terakhir, nilai tukar berbagai negara berkembang menghadapi tantangan akibat perubahan kebijakan moneter global. Dolar AS yang kuat sering kali memberikan tekanan terhadap mata uang lain, termasuk rupiah.

Namun, kondisi tersebut tidak selalu berlangsung dalam satu arah. Perubahan sentimen pasar, perkembangan ekonomi dunia, serta kebijakan pemerintah dapat memberikan pengaruh terhadap nilai tukar.

Selain itu, kondisi fundamental ekonomi dalam negeri juga menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan pasar. Investor biasanya memperhatikan berbagai indikator sebelum menentukan langkah investasi.

Oleh karena itu, perkembangan rupiah ke depan masih akan sangat dipengaruhi oleh bagaimana pasar merespons berbagai informasi ekonomi terbaru.

Pelaku Pasar Menanti Arah Rupiah Berikutnya

Pelemahan rupiah menjelang akhir pekan menunjukkan bahwa pasar masih berhati-hati menghadapi ketidakpastian ekonomi global. Tekanan dari dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang membuat mata uang Garuda bergerak melemah.

Meski begitu, terdapat sejumlah faktor yang berpotensi membantu menjaga stabilitas rupiah. Penurunan harga minyak serta peluang perkembangan positif dari hubungan internasional dapat memberikan ruang bagi rupiah untuk kembali menguat.

Sementara itu, investor akan terus memantau kebijakan The Fed dan berbagai indikator ekonomi lainnya. Dengan kondisi pasar yang dinamis, pergerakan rupiah masih dapat berubah mengikuti sentimen terbaru.