BRI Ungkap 3 Kunci agar UMKM Indonesia Bisa Tembus Pasar Ekspor

BRI Ungkap 3 Kunci agar UMKM Indonesia Bisa Tembus Pasar Ekspor

Tinta Berita – Peluang UMKM Tembus Pasar Ekspor semakin terbuka, tetapi memiliki produk menarik saja belum cukup. Pelaku usaha juga harus memastikan bisnisnya mampu memenuhi permintaan dalam skala lebih besar. Direktur Commercial Banking BRI Alexander Dippo Paris menyebut ada tiga aspek penting yang perlu diperkuat. Ketiganya mencakup kapasitas dan kualitas produksi, literasi keuangan, serta akses menuju pasar internasional. Hal tersebut disampaikan dalam Indonesia Economic Forum 2026: The Future of Indonesia’s Exports pada 7 September. Menurut saya, tiga faktor tersebut saling berkaitan. Produk berkualitas tidak akan berkembang tanpa modal yang memadai. Sebaliknya, modal besar juga kurang efektif jika pencatatan keuangan berantakan. Setelah dua fondasi itu kuat, pelaku usaha masih harus menemukan pembeli. Karena itu, ekspor sebenarnya merupakan perjalanan bisnis yang membutuhkan kesiapan dari banyak sisi.

Kapasitas Produksi Menjadi Fondasi Pertama

Langkah pertama berkaitan dengan kemampuan UMKM memenuhi permintaan pasar secara konsisten. Alexander menilai kapasitas usaha memiliki hubungan erat dengan akses terhadap modal. Ketika permintaan meningkat, pelaku usaha membutuhkan bahan baku lebih banyak. Selain itu, mereka mungkin perlu menambah mesin, tenaga kerja, atau fasilitas produksi. Tanpa dukungan modal, peningkatan skala bisnis akan sulit dilakukan. Karena itu, perbankan mempunyai peran penting dalam menyediakan pembiayaan. Namun, kapasitas tidak hanya berbicara mengenai jumlah barang. Konsistensi kualitas juga sangat menentukan. Pembeli internasional biasanya membutuhkan standar yang dapat dipertahankan dalam setiap pengiriman. Menurut saya, tahap ini sering menjadi ujian awal bagi UMKM. Menjual seratus produk dengan kualitas baik tentu berbeda dengan memenuhi pesanan ribuan unit secara rutin. Oleh sebab itu, peningkatan kapasitas sebaiknya dilakukan bersamaan dengan penguatan standar produksi.

Kualitas Produk Menentukan Kepercayaan Pasar Internasional

Pasar ekspor memiliki persaingan yang lebih luas dibandingkan pasar lokal. Produk Indonesia tidak hanya bersaing dengan sesama UMKM dalam negeri. Barang tersebut juga akan bertemu produk dari berbagai negara. Karena itu, kualitas menjadi faktor yang sulit ditawar. Alexander menilai semakin baik faktor produksi suatu usaha, semakin besar peluang produknya diterima pasar. Hal ini mencakup bahan baku, proses produksi, kemasan, hingga konsistensi hasil akhir. Selain itu, beberapa negara atau pembeli bisa memiliki standar tertentu sesuai jenis produk. Pelaku UMKM perlu memahami kebutuhan tersebut sejak awal. Dalam pandangan saya, kualitas bukan sekadar cara menaikkan harga jual. Kualitas juga membangun kepercayaan. Pembeli yang puas memiliki peluang lebih besar untuk melakukan pemesanan ulang. Hubungan jangka panjang seperti inilah yang dapat membantu UMKM membangun bisnis ekspor secara berkelanjutan.

Baca Juga : Fitur Baru TikTok Bawa Komentar Suara, Polling, dan 9 Foto Sekaligus

Pembiayaan Membantu UMKM Naik Kelas

Kebutuhan modal menjadi bagian penting ketika UMKM ingin meningkatkan kapasitas. BRI menyatakan terus mendorong pembiayaan untuk sektor tersebut. Berdasarkan data internal yang disampaikan Alexander, hampir 65 persen pembiayaan UMKM tahunan disebut berasal dari BRI. Angka tersebut memperlihatkan besarnya fokus bank terhadap segmen usaha kecil dan menengah. Meski demikian, pembiayaan sebaiknya tidak hanya dipandang sebagai tambahan uang tunai. Modal yang digunakan secara produktif dapat membantu bisnis memperbaiki peralatan, meningkatkan kualitas, atau memperluas distribusi. Di sisi lain, pinjaman juga harus disesuaikan dengan kemampuan pembayaran. Pelaku usaha perlu memahami arus kas sebelum mengambil pembiayaan. Dengan cara itu, dana yang diperoleh dapat menjadi alat pertumbuhan, bukan beban baru. Langkah ini menjadi semakin penting ketika target bisnis mulai bergerak menuju pasar internasional.

Literasi Keuangan Menjadi Syarat Kedua untuk Ekspor

Setelah kapasitas dan kualitas produksi berkembang, pelaku usaha perlu memperkuat pengelolaan keuangan. Alexander menyebut literasi keuangan sebagai faktor kedua agar UMKM Tembus Pasar Ekspor. Menurutnya, perdagangan internasional saat ini tidak hanya berkaitan dengan proses menjual barang. Calon pembeli juga dapat memperhatikan transparansi dan kondisi bisnis pemasok. Mereka ingin memahami bagaimana produk dibuat serta bagaimana perusahaan mengelola keuangannya. Karena itu, pencatatan transaksi yang rapi menjadi semakin penting. Pelaku UMKM sebaiknya mampu membedakan keuangan pribadi dan bisnis. Selanjutnya, pemasukan, pengeluaran, utang, serta kebutuhan modal perlu dicatat dengan jelas. Kebiasaan sederhana tersebut dapat membuat kondisi usaha lebih mudah dianalisis. Menurut saya, literasi keuangan justru menjadi salah satu pondasi yang sering terlupakan. Padahal, bisnis dengan penjualan tinggi belum tentu sehat jika arus kasnya tidak terkelola.

Transparansi Keuangan Bisa Meningkatkan Kepercayaan Pembeli

Dalam perdagangan lintas negara, kepercayaan memiliki nilai yang sangat besar. Pembeli dan penjual sering berada di lokasi berbeda dengan sistem bisnis yang berbeda pula. Oleh sebab itu, transparansi menjadi salah satu cara mengurangi risiko. Alexander menjelaskan bahwa pembeli luar negeri dapat meminta penjelasan mengenai proses produksi hingga sumber keuangan produsen. Informasi tersebut dapat digunakan untuk melihat kemampuan pemasok memenuhi kewajibannya. Bagi UMKM, kondisi ini berarti pencatatan keuangan tidak lagi sekadar urusan internal. Administrasi yang baik dapat membantu membangun kredibilitas di mata mitra bisnis. Selain itu, data keuangan juga memudahkan pelaku usaha menghitung biaya produksi dan menentukan harga ekspor. Dengan perhitungan tepat, margin keuntungan dapat dijaga meski terdapat biaya logistik atau kebutuhan tambahan. Karena itu, literasi keuangan perlu berkembang seiring pertumbuhan skala usaha.

BRI Tidak Hanya Menawarkan Pinjaman

BRI menyebut pendekatannya terhadap UMKM tidak berhenti pada pemberian pembiayaan. Bank tersebut juga menjalankan program pendampingan dan edukasi. Salah satunya adalah Klasterku yang disebut telah mencakup sekitar 44 ribu klaster. Selain itu, program Desa BRILiaN menjangkau sekitar 5.700 desa. BRI juga mengembangkan LinkUMKM yang disebut telah menjangkau 17,3 juta UMKM. Program seperti ini menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan usaha membutuhkan lebih dari akses kredit. Pelaku bisnis juga memerlukan pengetahuan, jaringan, dan pendampingan. Menurut saya, pendekatan tersebut relevan karena setiap UMKM berada pada tingkat kesiapan yang berbeda. Ada bisnis yang membutuhkan modal. Sebagian lainnya justru membutuhkan pelatihan pemasaran atau pencatatan keuangan. Pendampingan yang tepat dapat membantu pelaku usaha mengetahui aspek mana yang perlu diperkuat terlebih dahulu sebelum mengejar pasar ekspor.

Akses Pasar Menjadi Kunci Ketiga yang Tidak Bisa Diabaikan

Modal cukup dan produksi berkualitas tetap belum menjamin keberhasilan ekspor. Pelaku usaha juga harus menemukan pasar yang tepat. Inilah faktor ketiga yang disoroti Alexander. Menurutnya, usaha dengan keuangan rapi dan kapasitas besar tetap akan kesulitan mengekspor tanpa akses kepada calon pembeli luar negeri. Pernyataan tersebut terdengar sederhana, tetapi sangat penting. Banyak UMKM memiliki produk menarik namun belum mengetahui cara bertemu distributor, importir, atau buyer internasional. Karena itu, jaringan menjadi aset besar. Pelaku usaha juga perlu memahami negara mana yang cocok dengan produknya. Preferensi konsumen, harga, regulasi, dan biaya distribusi bisa berbeda di setiap pasar. Dalam pandangan saya, strategi ekspor sebaiknya tidak dimulai dengan pertanyaan “ke negara mana saja produk bisa dijual”. Pertanyaan yang lebih tepat adalah “pasar mana yang paling cocok dengan karakter produk”.

BRI UMKM Expo Membuka Pertemuan dengan Calon Mitra

Salah satu cara yang digunakan BRI untuk memperluas akses pasar adalah melalui BRI UMKM Expo. Kegiatan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai ruang memamerkan produk. Pelaku UMKM juga memperoleh kesempatan bertemu calon mitra bisnis. Alexander mengatakan penyelenggaraan terakhir mencatat nilai sekitar US$90,6 juta. Menurutnya, capaian tersebut terus meningkat. Angka itu memperlihatkan bahwa pertemuan bisnis dapat menjadi jembatan penting menuju pasar yang lebih luas. Pameran memungkinkan pembeli melihat produk secara langsung. Sementara itu, pemilik usaha bisa memahami kebutuhan calon mitranya. Interaksi seperti ini sulit digantikan hanya melalui promosi digital. Selain itu, UMKM dapat memperoleh masukan mengenai harga, kemasan, atau kapasitas yang dibutuhkan pasar. Dengan demikian, acara bisnis dapat menjadi tempat menguji kesiapan produk sebelum masuk ke transaksi ekspor yang lebih besar.

One BRI Solution Menghubungkan UMKM dengan Ekosistem Bisnis

BRI juga mengembangkan konsep One BRI Solution untuk mempertemukan UMKM dengan jaringan bisnis yang lebih luas. Menurut Alexander, nasabah UMKM dapat dicocokkan dengan ekosistem yang dimiliki perseroan. BRI memiliki nasabah dari segmen korporasi dan komersial yang berpotensi menjadi bagian dari rantai bisnis tersebut. Pendekatan ini menarik karena akses pasar sering menjadi masalah yang tidak mudah diselesaikan sendiri oleh usaha kecil. Dengan jaringan yang lebih luas, UMKM berpotensi menemukan pemasok, distributor, atau calon pembeli baru. Bahkan, koneksi tersebut dapat berkembang hingga pasar ekspor. Menurut saya, model ekosistem seperti ini dapat menjadi keuntungan besar apabila proses pencocokannya tepat. UMKM tidak hanya membutuhkan uang untuk tumbuh. Mereka juga membutuhkan pintu masuk menuju rantai bisnis yang sebelumnya sulit dijangkau.

Persiapan Ekspor Sebaiknya Dimulai Sebelum Pesanan Datang

Ada kecenderungan sebagian bisnis baru mempersiapkan sistem ketika pesanan besar sudah datang. Padahal, strategi seperti itu dapat menimbulkan masalah. Pelaku usaha sebaiknya mulai memperbaiki produksi, administrasi, dan jaringan sejak lebih awal. Misalnya, kapasitas produksi bisa dihitung secara realistis setiap bulan. Selanjutnya, biaya per unit perlu diketahui dengan jelas. Standar kualitas juga harus dibuat agar produk tidak berubah ketika volume meningkat. Setelah itu, pemilik usaha dapat mulai mencari calon pasar melalui pameran, komunitas, atau mitra bisnis. Persiapan tersebut membuat UMKM Tembus Pasar Ekspor dengan fondasi lebih kuat. Menurut saya, ekspor bukan target yang harus dikejar secepat mungkin. Kesiapan jauh lebih penting dibandingkan sekadar memperoleh pesanan pertama. Bisnis yang siap memiliki peluang lebih besar mempertahankan pembeli setelah transaksi awal berhasil.

Tiga Fondasi Ini Bisa Membawa UMKM Menuju Pasar Global

Pesan utama yang disampaikan BRI sebenarnya cukup jelas. UMKM membutuhkan kapasitas produksi yang kuat, pengelolaan keuangan yang baik, serta akses pasar yang luas. Ketiganya tidak dapat berjalan sendiri. Modal dapat membantu meningkatkan produksi. Namun, pengelolaan keuangan menentukan apakah ekspansi tersebut sehat. Selanjutnya, jaringan pasar memastikan produk yang sudah tersedia benar-benar bertemu pembeli. Dari perspektif bisnis, kombinasi tersebut membentuk rantai pertumbuhan yang lebih berkelanjutan. Indonesia memiliki banyak produk lokal dengan karakter khas dan potensi pasar besar. Tantangannya adalah mengubah keunggulan produk menjadi sistem usaha yang siap bersaing. Dengan persiapan bertahap, peluang UMKM masuk ke pasar global menjadi lebih realistis. Ekspor kemudian tidak lagi terasa seperti langkah besar yang sulit dicapai, tetapi menjadi fase berikutnya dari bisnis yang sudah memiliki fondasi matang.